Breaking News:

Pembelajaran Fungsional bagi Anak MDVI di SLB A Yaketunis

MDVI merupakan anak yang mengalami hambatan penglihatan disertai satu bahkan dua hambatan lain sehingga mereka membutuhkan layanan khusus.

Editor: Gaya Lufityanti
istimewa
Sri Wahyuni Endaryati S.Pd selaku Guru SLB A Yaketunis 

Peran orang tua sangat penting untuk menumbuhkan kualitas hidup yang tinggi bagi anak MDVI, dengan cara membelajarkan kepada mereka bahwa mereka ada di dunia untuk hidup (to live), mencintai (to love), bekerja (to work) dan untuk bermain (to play).

Tujuh hal yang harus diperhatikan ketika akan melaksanakan pembelajaran fungsional di kelas MDVI (Weniningsih, 2017) yaitu sebagai berikut:

Pertama, Jadwal kelas yang mengakomodasi kebutuhan hidup (to live),bekerja (to work), bermain (to play), mencintai (tolove). Jadwal kelas tersebut berupa jadwal kegiatan fungsional yang disesuaikan dengan usia anak, . pelaksanaannya disusun secara urut disertai alasannya. Misalnya hari Selasa jam pertama Olahraga, jam kedua ADL (mandi), jam ketiga membuat minum serta mencuci peralatan minum. Semua kegiatan yang dilakukan menunjukan hubungan sebab akibat setelah anak olahraga, anak berkeringat maka anak harus mandi, setelah itu anak membuat minum karena haus setelah aktifitas olahraga setelah itu anak beraktifitas mencuci peralatan minum yang dipakai untuk minum

Kedua, Menggunakan Komunikasi alternative /AAC ( Augmentatif Alternati fComunication) berupa kalender system berbentuk benda asli (nyata), benda tiruan, tulisan mau pun gambar. Penggunaan AAC bagi anak MDVI yang masih memiliki sisa penglihatan berguna untuk : mengekspresikan keinginan atau kebutuhan, menjawab pertanyaan, memilih topic/ mengembangkan topic (orang/tempat, benda, perasaan, kejadian), alat untuk membuat pertanyaan dan menjawab ( apa, siapa, dimana, kapan, bagaimana, mengapa)

Ketiga, Kalender system berupa symbol benda-benda nyata yang akan digunakan oleh anak-anak MDVI dalam berkomunikasi, apabila siswa MDVI/DB memiliki kesulitan untuk komunikasi dan mengingat kegiatan, maka kalender system dapat digunakan untuk mengembangkan topic pembicaraan, Contoh penyusunan kalender system adalah dengan menggunakan symbol benda yang mudah dikenal oleh anak, misalnya : Olah raga dengan symbol Bola,  Mandi (gayung), membuat minum (gelas plastic).

Keempat, Kegiatan fungsional harus di kombinasikan dengan akademik fungsional ,artinya ketika kegiatan memasak jangan hanya memasak saja atau belanja saja, tetapi kita harus memasukkan konsep akademik dengan materi yang berhubungan dengan kegiatan yang sedang berlangsung, misal : ketika berbelanja kita bisa memasukkan unsur mata pelajaran Matematika ( menghitung uang), Bahasa Indonesia (mengucapkan benda yang akan dibeli) dan IPA (mengenal benda). Pembelajarannya tidak hanya pembelajaran akademik tetapi juga pembelajaran Fungsional akademik.

Kelima, Gunakan strategi yang digunakan sehari-hari ketika belajar bersama anak MDVI, strategi suportif yang sehari-hari digunakan dapat di integrasikan dan dikombinasikan (strategi menunggu, hand under hand, kegiatan awal, tengah, akhir) yang bermanfaat untuk mendorong kemandiriannya. Setiap pembelajaran kegiatan fungsional selalu ada kegiatan menunggu (menunggu reaksi anak ketika diminta melakukan kegiatan), strategi hand under hand (posisi tangan guru berada dibawah tangan anak dengan tujuan memberikan bantuan/ promting ketika siswa belum dapat melakukan aktifitas), penggunaan strategi awal, tengah dan akhir (anak harus mengetahui bahwa setiap kali melaksanakan kegiatan diawali dengan kegiatan mulai, mengerjakan dan tahap penyelesaian (awal-tengah dan akhir)

Keenam, Identifikasikan siswa di sekolah

Anak - anak MDVI/DB  masih banyak tersembunyi di jurusan tuna daksa(D), jurusan C (tuna grahita), jurusan B (tuna rungu),  Autism. Setelah dilakukan identifikasi sebisa mungkin anak yang cukup berat kondisinya dan seusia dijadikan dalam satu kelompok, jadi tidak berdasarkan disabilitas dominannya.

Ketujuh, Jika anak mengalami Cerebral Palsy (CP), maka tempat duduk dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan anak CP supaya anak CP merasa nyaman dan mudah bergerak, tidak melakukan aktifitas di lantai atau kursi roda. (TRIBUNJOGJA.COM)

*) Oleh : Sri Wahyuni Endaryati S.Pd selaku Guru SLB A Yaketunis

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved