Breaking News:

Wabah Virus Corona

Remdevisir Obat Ebola, Disebut Lebih Cepat Memulihkan Pasien Virus Corona

Pada awal Mei, FDA mengeluarkan izin penggunaan darurat remdesivir untuk digunakan pada pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit dengan sakit parah

Editor: Rina Eviana
Shutterstock/Felipe Capparos
Remdevisi 

TRIBUNJOGJA.COM -Hingga saat ini obat Virus Corona penyebab COVID-19 belum ditemukan. Akan tetapi, kabar baiknya obat antivirus yang digunakan untuk mengobati infeksi Virus Ebola, Remdesivir, kembali memberi bukti manfaat terhadap terapi pengobatan untuk pandemi virus yang mewabah saat ini.

Melansir CNN, Selasa (2/6/2020), Gilead Sciences, perusahaan pembuat obat remdesivir ini mengumumkan dalam sebuah pernyataan, obat antivirus tersebut mempercepat pemulihan pada pasien yang COVID-19 sedang.

Hasil uji klinis Fase III pada obat memang belum dipublikasikan dalam jurnal medis peer-review, namun perusahaan ini menyatakan akan mengirimkan hasil uji klinis tersebut secara lengkap untuk dipublikasikan beberapa minggu ke depan.

Remdevisir Obat Virus Corona
Remdevisir Obat Virus Corona (Shutterstock/Felipe Capparos)

"Dengan data terbaru yang diumumkan (Senin), kami sekarang memiliki tiga uji klinis secara acak yang menunjukkan remdesivir meningkatkan hasil klinis dengan beberapa langkah berbeda," kata Dr. Merdad Parsey, kepala petugas medis Gilead Sciences.

Seperti diketahui, perusahaan ini awalnya mempelajari remdesivir sebagai pengobatan potensial untuk penyakit yang disebabkan oleh virus ebola.

Akan tetapi, melalui percobaan di laboratorium, obat ini kemudian memungkinkan untuk digunakan terhadap virus corona. Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat belum menyetujui pengobatan apapun untuk menangani COVID-19.

Akan tetapi pada awal Mei, FDA mengeluarkan izin penggunaan darurat remdesivir untuk digunakan pada pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit dengan sakit parah.

Sementara di Jepang, penggunaan remdesivir untuk mengobati penyakit dari virus SARS-CoV-2 juga disetujui, tetapi dianggap sebagai pengobatan yang diteliti untuk Covid-19 di belahan dunia yang lain.

"Dengan adanya data tambahan yang kami miliki, kami akan terus mengejar peluang penelitian untuk mengevaluasi hasil pengobatan terhadap pasien dan kemungkinan potensi baik dari penggunakan remdesivir ini," imbuh Parsey.

Satu ampul obat Ebola remdesivir ditunjukkan dalam konferensi pers di Rumah Sakit Universitas Eppendorf (UKE) di Hamburg, Jerman, 8 April 2020. Remdesivir kini sedang diuji coba untuk pengobatan Covid-19.
Satu ampul obat Ebola remdesivir ditunjukkan dalam konferensi pers di Rumah Sakit Universitas Eppendorf (UKE) di Hamburg, Jerman, 8 April 2020. Remdesivir kini sedang diuji coba untuk pengobatan Covid-19. (POOL/REUTERS)

Termasuk di antaranya memperpanjang perawatan lebih awal. Parsey menambahkan perlunya studi kombinasi dengan terapi lain bagi pasien dengan COVID-19 parah, serta studi pediatrik dan pengembangan formulasi alternatif dari obat ini.

Perusahaan China Klaim Temukan Vaksin Virus Corona yang Miliki Prosentase Efektif Hingga 99 Persen

Hasil uji klinis pada pasien secara acak

Dalam studi baru remdesivir ini, peneliti di Gilead melakukan secara acak terhadap 600 pasien COVID-19 yang menerima perawatan standar selama lima hari dan 10 hari.

Pasien dengan sakit COVID-19 sedang menerima remdesivir selama lima hari, lebih mungkin mengalami peningkatan klinis setelah 11 hari perawatan, dibandingkan mereka yang hanya menerima perawatan standar konvensional.

Sementara pada pasien yang menerima pengobatan selama 10 hari ini, pemulihannya tidak signifikan secara statitistik. Ini menunjukkan hanya dengan lima hari pengobatan mungkin cukup untuk membantu pasien pulih.

Progres Tiga Lembaga yang Terus Berupaya Kembangkan Vaksin Virus Corona di Indonesia

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved