Superball
Memori Manis Bona Simanjuntak di PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta
Dua klub asal DIY, PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta meninggalkan kesan manis bagi seorang Bona Elisa Simanjuntak.
Penulis: R.Hanif Suryo Nugroho | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM - Dua klub asal DIY, PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta meninggalkan kesan manis bagi seorang Bona Elisa Simanjuntak.
Defensive midfelder yang identik dengan permainan keras tanpa kompromi sewaktu masih aktif sebagai pemain ini menjadi seorang pilar yang membawa PSS Sleman bertengger di posisi empat klasemen akhir kompetisi Divisi Utama 2004 silam.
Ia pun turut menjadi aktor keberhasilan PSS Sleman semusim berikutnya di ajang Copa Dji Sam Soe, melaju hingga babak semifinal sebelum akhirnya ditekuk Arema Malang yang juga menjadi kampiun ajang tersebut.
Bona kala itu bahu membahu bersama pemain lain, diantaranya Anderson Da Silva, Deca Dos Santos, Fajar Listiantoro, Joice Sorongan, Marcelo Braga, M Eksan, Seto Nurdiyantoro dan juga Yuniarto Budi.
• Masa Pandemi Corona, Eks Pemain PSIM Yogyakarta Luncurkan Single Ojo Mudik
Nah setelah berpindah-pindah klub, Bona kembali ke PSS Sleman pada musim 2013.
Pada musim itu pula ia merasakan hegemoni juara Divisi Utama Liga Prima Indonesia Sportindo (LPIS) 2013.
Bona berduet dengan mantan breaker Arema Malang, Juan Revi, sebagai double pivot, di jantung lini tengah PSS Sleman.
Keduanya menyokong seorang gelandang serang, sekaligus kapten tim Super Elang Jawa, Anang Hadi.
Dalam pertandingan final, PSS Sleman harus bersusah payah mengandaskan Lampung FC, dengan skor tipis 1-2, setelah melewati babak tambahan waktu.
Bona pun turut andil dalam memutus dahaga gelar juara PSS Sleman, untuk pertama kalinya dalam sejarah.
Cerita pun berganti, saat Bona kemudian menerima tantangan menakhodai PSIM Yogyakarta pada musim 2018.
Jika menengok awal perjalanan PSIM Yogyakarta musim itu, tentu banyak pihak yang meragukan kalau klub yang berdiri pada 1929 tersebut, bakal lolos dari jerat degradasi.
Bagaimana tidak, PSIM Yogyakarta harus memulai kompetisi dengan pengurangan sembilan poin.
Kendati menghadapi situasi sulit saat itu, toh Laskar Mataram menunjukkan mentalitas baja, menyuguhkan permainan menawan dan finish di posisi enam dengan 31 poin.
• Imbas Corona, Home Base PSIM Yogyakarta Ditutup untuk Sementara
Andai tak ada pengurangan poin, tim racikan Bona akan mengoleksi 40 poin dan bakal mendapatkan satu tempat ke babak 8 besar.
"Saya merasa menjadi orang yang beruntung, bisa pernah berada dalam dua tim yang kita tahu punya rivalitas tinggi ya, walaupun ketika saya habis dari Sleman lalu ke PSIM Yogyakarta, semua baik-baik saja. Ya saya bangga bisa menjadi bagian dua tim ini," ujar Bona Simanjuntak kepada Tribunjogja.com, Minggu (17/5/2020).
Bona tak pernah melupakan jasa PSS Sleman yang membesarkan namanya sebagai pemain.
Demikian pula PSIM Yogyakarta yang menorehkan pengalaman berharga bagi perjalanan kariernya sebagai pelatih.
"Sewaktu masih aktif main bola, ketika libur kompetisi saya baliknya bukan ke Medan, tapi ke Jogja walau sudah tidak berseragam PSS Sleman," kata pria asli Medan yang kini berdomisili di Sleman ini.
"Misal saat saya main di Persela Lamongan, Persikabo Bogor, Persijap Jepara atau Persires Rengat, ya ketika libur saya balik ke Jogja. Kata orang Jogja ngangenin, saya pun demikian merasakan damai, dan tenang. Suasananya saya suka," imbuhnya.
• PSSI Mengacu Pemerintah Soal Kelanjutan Kompetisi, Ini Respon PSIM Yogyakarta
Namun siapa sangka, sebelum menyemai memori indah sebagai pelatih PSIM Yogyakarta 2018 silam, Bona memiliki pengalaman kurang mengenakkan dengan tim yang berhomebase di Mandala Krida, 2006 silam.
Bona yang ketika itu memperkuat PSMS Medan diserang oknum suporter ketika akan meninggalkan stadion seusai melakukan official training.
"Itu sudah lama dan saya pun sudah lupa sebenarnya. Bermula dari ejekan suporter dengan teman saya ketika itu, namun ketika keluar stadion saya pun ikut kena pukul. Padahal ributnya dengan teman saya," cerita Bona.
"Kemudian tahun 2018 saya mendapatkan tawaran melatih PSIM, ya saya profesional saja. Tidak ada pemikiran sehoror itu,"
"Tapi bagaimanapun di PSIM Yogyakarta sangat berkesan bagi saya meski hanya satu musim, kekeluargaannya sangat tinggi, tim sangat kompak di luar dan dalam lapangan, begitu juga suporter yang selalu welcome dengan saya," pungkasnya. (TRIBUNJOGJA.COM)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/memori-manis-bona-simanjuntak-di-pss-sleman-dan-psim-yogyakarta.jpg)