Kota Yogyakarta

Masyarakat Diminta Teliti dalam Membeli Telur

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Yogyakarta, Yunianto Dwi Sutono mengatakan harga telur di pasaran sekitar Rp18.000 per kilogram, semen

recipes.timesofindia.com
ilustrasi 

Laporan Reporter Tribun Jogja Christi Mahatma Wardhani

TRIBUNJOGJA.COM. YOGYA - Masyarakat diimbau untuk mewaspadai telur murah. Sebab ada kemungkinan terlur tersebut merupakan telur infertil.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Yogyakarta, Yunianto Dwi Sutono mengatakan harga telur di pasaran sekitar Rp18.000 per kilogram, sementara harga telur infertil sekitar Rp7.000 per kilogramnya.

Secara fisik, kata dia, telur infertil tidak ada bedanya dengan telur ayam broiler. Namun telur infertil cenderung cepat busuk jika disimpan.

"Masyarakat harus lebih teliti saat membeli telur, karena memang secara fisik terlihat bedanya. Memang telur infertil seharusnya tidak dijual di pasaran,"katanya, Rabu (20/05/2020).

Perbandingan Nutrisi Telur Ayam, Telur Bebek dan Telur Puyuh, Mana yang Lebih Sehat?

Pihaknya pun terus melakukan pengawasan, khususnya di pasar tradisional.

Hal itu agar masyarakat bisa mengonsumsi bahan pokok yang layak dikonsumsi.

Ia juga meminta lurah-lurah pasar untuk turut mengawasi peredaran telur infertil di pasar-pasar Kota Yogyakarta.

"Kami terus melakukan pantauan, tetapi sejauh ini kami belum menemukan adanya telur infertil di pasar. Kami juga minta lurah pasar untuk melakukan pengawasan,"ujarnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta, Sugeng Darmanto mengatakan telur infertil merupakan telur yang seharusnya ditetaskan oleh peternak.

"Telur infertil itu kan memang tidak untuk dijual. karena diformulasikan untuk ditetaskan, untuk DOC (day old chicken). Secara fisik tidak terihat bedanya, hanya cepat busuk saja. Kalau dalam suhu hangat bisa menetas sendiri,"ujarnya.

Peredaran Telur Infertil Bikin Produsen di DIY Resah, Berikut Ciri-cirinya

Ia menambahkan telur infertil beredar di pasaran karena harga pedaging rendah.

Kondisi tersebut membuat peternak memilih untuk menjual telur, daripada menetaskan.

"Harga pakan kan juga mahal, jadi peternak juga tidak mau ambil resiko. Kemarin saja mereka menyebar DOC. Ya masyarakat harus lebih teliti saja dalam membeli telur," tambahnya.(TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: Christi Mahatma Wardhani
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved