Breaking News:

Qassem Soleimani, Tokoh Sentral di Balik Kekalahan ISIS di Irak dan Suriah

Qassem Soleimani, Tokoh Sentral di Balik Kekalahan ISIS di Irak dan Suriah

Al Jazeera
Mayor Jenderal Qassem Soleimani 

Konflik kedua Negara yang kerap muncul lewat retorika keras, oleh kalangan tertentu dianggap hanya permainan untuk tujuan politik terkait Israel dan ISIS.

Tapi pembunuhan Qassem membuyarkan semua narasi itu. “Sekarang semua tahu siapa yang petentang-petenteng, siapa yang arogan,” kata Alvian.

Baginya, membunuh Qassem adalah kesalahan kalkulasi Washington. Mereka keliru menghitung efek lanjutannya dari operasi tersebut.

Iran kemudian mengejutkan dunia, memperlihatkan kapabilitasnya yang secara presisi mampu menggempur pangkalan-pangkalan AS di Irak.

“Sulit lho membayangkan ada yang berani melawan langsung Amerika. Bayangan banyak orang, itu tindakan gila,” ujar penulis dan eks jurnalis ini.

Di bagian lain, Habib Musa al-Kadzimi menjawab pertanyaan peserta, mengapa AS tidak balas lagi serangan rudal Iran ke Irak.

Menurut Musa, ini terkait konstelasi politik kawasan dan basis legal jika pecah perang terbuka menyusul pembunuhan Qassem.

“Qassem datang ke Irak sebagai tamu resmi, akan bertemu secara resmi dengan pejabat Irak, kunjungannya juga resmi mewakili Negara,” jelas Musa.

“Karena itu jika melanjutkan perang, AS tidak punya basis legal internasional. Tindakan mereka memicu perang ini salah dari segi apapun secara hokum internasional,” bebernya.

“Jadi mereka berpikir, tak ada untung juga berlanjut. It’s finished,” kata penulis buku yang juga mahasiswa pascasarjana di UI ini.

Budayawan Sujiwo Tedjo ikut urun rembuk, dan mengaku dia sangat tergetar. “Iran membuat saya tergetar,” kata seniman yang dijuluki Presiden Jancukers ini.

“Sosok Qassem yang sufistik, puitis, ini sangat menarik. Saya membayangkan para pemimpin kita bisa seperti itu,” katanya.

Sudjiwo Tedjo mengritik tajam para pemimpin Indonesia saat ini, yang jauh dari kesederhanaan, amanah, mampu member teladan serta konsisten.

Semangat membuka investasi, di mata Sudjiwo Tedjo, mengalahkan segala-galanya. Para pemimpin kurang literasi.

“Para pemimpin kita tidak melaksanakan hasta brata, tidak membaca. Karena itu tidak konsisten dan membingungkan,” ujar eks wartawan Kompas yang pintar mendalang ini.(Tribunjogja.com/xna)

  

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved