Pakar UGM Dukung Sistem Barter Sebagai Jaminan Sosial Lokal di Masa Pandemi

Pandemi Covid-19 yang belum kunjung tampak garis akhirnya menciptakan ragam krisis di masyarakat.

ist
Hempri Suyatna 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL – Pandemi Covid-19 yang belum kunjung tampak garis akhirnya menciptakan ragam krisis di masyarakat.

Di masa ini, kepedulian dan kepekaan sosial diuji dengan lebih kuat.

Sejatinya ada banyak cara melahirkan ketahanan sosial, satu di antaranya sistem barter. Yakni cara transaksi tanpa menggunakan uang.

Pengamat sosial yang juga dosen Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) UGM, Hempri Suyatna memberikan pandangannya bila sistem barter kembali dihidupkan di tengah masyarakat.

“Saya kira itu (sistem barter) contoh bagus, bagaimana mengembangkan jaminan sosial lokal

di tengah keterbatasan anggaran pemerintah. Saya kira langkah-langkah itu sangat bagus sebagai bentuk jaring pengaman sosial lokal,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Dia menambahkan, barter perlu disesuaikan dengan potensi dan kebutuhan masyarakat itu sendiri.

“Barter tentunya didasarkan pada basis potensi dan kebutuhan masyarakat,” tuturnya.

Ditintelkam Polda DIY Bagikan Sembako Bagi Warga Terdampak Virus Corona

Sri Sultan HB X Belum Usulkan Yogyakarta Terapkan PSBB, Begini Alasannya

Tidak hanya antar individu, menurutnya barter antar desa juga mungkin dilakukan.

Semisal ada suatu desa yang memiliki kelebihan pada produksi pangan tertentu, dapat bertukar dengan desa lain.

“Kerjasama antar desa mungkin bisa dilakukan. Pemerintah bisa menginisasi dan melakukan pengawasan,” imbuhnya.

Terpisah, Triyono yang merupakan Ketua RW 52 Pohruboh, Padukuhan Pikgondang, Condongcatur, Depok, Sleman, mengatakan secara tidak langsung sistem barter sudah terjadi di kampungnya.

“Jika saling memberi secara bergantian sudah ada, misalnya ada yang ngasih pisang, kemudian gantian dikasih makanan atau sayur,” ujarnya.

Hal itu menurut Triyono sudah terjadi antar warganya sebelum ada pandemi. Namun, di masa Covid-19 menurutnya ada peningkatan pada tradisi tersebut.

“Sebagian punya kebiasaan sebelum Covid, tapi setelah Covid ada peningkatan. Meskipun ada juga karena wabah ini dan kebetulan bulan Ramadan. Misal saja hari ini saya dapat dari dua orang tetangga. Yang satu ngasih burjo dan satu lagi ngasih kolak,” tandasnya. (Tribunjogja/Maruti Asmaul Husna)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved