Breaking News:

Nasional

Terkait Pengunduran Diri Hanafi Rais, Pakar Politik UMY Nilai Elit PAN Gagal Mengelola Konflik

Ia menganggap bahwa mundurnya Hanafi bisa jadi disebabkan oleh kepentingan politiknya di tubuh PAN tidak lagi terakomodasi dengan baik.

Penulis: Yosef Leon Pinsker | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Alexander Ermando
Hanafi Rais 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pengajar Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Tunjung Sulaksono menilai, pengunduran diri Hanafi Rais dari seluruh jabatan politik yang diembannya merupakan gambaran dari gagalnya para elit politik PAN dalam mengelola konflik internal partai.

Di sisi lain, dia menganggap bahwa mundurnya Hanafi bisa jadi disebabkan oleh kepentingan politiknya di tubuh PAN tidak lagi terakomodasi dengan baik, sehingga jalan untuk memilih kendaraan politik melalui PAN tidak lagi sesuai dan berujung pengunduran diri.

Tunjung menjelaskan, faksi maupun konflik antar kader di tubuh partai merupakan hal yang biasa.

Apalagi partai sekelas PAN yang duduk di peringkat 8 pada Pemilu 2019 lalu dengan menempatkan 44 kadernya di DPR RI, tentu sudah harus memiliki manajemen konflik yang mumpuni untuk mengelola potensi kader di dalam partai.

Hanafi Rais Mengundurkan Diri dari Anggota DPR dan Kepengurusan PAN

"Ada partai yang menjadikan faksi dan konflik sebagai potensi dan dapat mengelolanya dengan baik, namun di PAN kita bisa melihat sendiri. Saya kira pengunduran diri Hanafi adalah representasi dari kegagalan DPP dan elit PAN untuk mengelola konflik internal," jelas Tunjung, Selasa (5/5/2020).

Faksionalisme di tubuh partai, kata dia tidak semuanya bersifat negatif.

Jika pengurus maupun para elit mampu mengelolanya dengan cermat, bukan tidak mungkin menjadi energi yang bagus buat masa depan maupun citra partai di masyarakat.

Soal faksionalisme di tubuh PAN, Tunjung menganggap bahwa publik sudah bisa menebak adanya pengelompokkan yang menjurus pada dua sosok yakni Zulkifli Hasan (ZH) selaku Ketua Umum serta Amien Rais (AR) sebagai sesepuh partai.

Ajang kongres lalu mestinya jadi momentum yang tepat untuk proses mendamaikan dua kelompok itu, namun tidak juga terealisasi.

"Faksionalisme PAN tercermin dari kelompok ZH yang ingin dekat dengan kekuasaan, sementara di sisi lain kelompok AR adalah kelompok yang kritis dan cenderung berada di luar. Konflik ini kan sebenarnya bukan barang baru dan mestinya pada kongres lalu bisa jadi mekanisme kompromi untuk mendamaikan, tapi nyatanya tidak,"ungkap Tunjung.

BREAKING NEWS : Update Covid-19 DIY 5 Mei 2020, Positif Bertambah 6 dari Kluster GPIB Yogyakarta

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved