Breaking News:

Mutiara Ramadhan

Semarak Puasa Ramadan di Hati 

semua bentuk anjuran dan larangan ini tak berlaku jika umat Islam dapat menghayati nilai intrinsik ibadah puasa Ramadan

via 123rf.com
Ilustrasi 
Khoirul Imam, M.Ag
Khoirul Imam, M.Ag (ist)

Oleh: Khoirul Imam, M.Ag (Pengurus LDNU, Dosen IIQ An Nur Yogyakarta)

TIDAK seperti tahun-tahun sebelumnya, tiga atau dua bulan sebelum Ramadan umat Islam di segala penjuru biasanya sudah mulai menyemarakkan lingkungannya dengan nuansa keagamaan. Mereka membersihkan dan menghias masjid, bekerja bakti membersihkan makam keluarga dan sanak famili, memasang berbagai pamflet dan baliho selamat datang bulan Ramdahan untuk menghidupkan suasana di bulan suci.

Kali ini memang berbeda, wabah virus Corona atau Covid-19 yang menghantam berbagai negara seakan melumpuhkan semua lini. Semua orang dianjurkan untuk tinggal di rumah (stay at home). Tak ada yang boleh berkumpul-kumpul, hingga anjuran, bahkan larangan untuk beribadah di masjid. Namun, semua bentuk anjuran dan larangan ini tak berlaku jika umat Islam dapat menghayati nilai intrinsik ibadah puasa Ramadan yang sesungguhnya. 

Seperti jamak diketahui, puasa adalah suatu peribadatan yang juga disyariatkan kepada umat-umat terdahulu. Tujuan puasa bukan semata-mata tindakan menahan lapar, bukan pula sebatas menjaga mulut dari masuknya sesuatu, bukan sebuah langkah menghemat belanja sebagaimana hari-hari lainnya. Akan tetapi puasa adalah pekerjaan hati. Begitu pentingnya puasa Ramadan, sampai-sampai Allah yang akan memberikan pahalanya secara langsung. 

Pekerjaan hati berarti menunjuk pada keimanan yang ada dalam hati setiap mukmin (al-imanu ha huna). Puasa bukan sebatas perut yang lapar dan kosong, mulut yang mengering, tubuh yang lelah, sementara hati tak bergerak, iman tidak meningkat, keyakinan tidak bertambah, dan ketaatan yang tidak beranjak. Namun termasuk ketakwaan adalah merasa diri takut dengan keagungan Allah swt., mengamalkan nilai-nilai firman-Nya dalam Alquran, ridha dengan pemberian-Nya, dan mempersiapkan diri untuk hari akhir. 

Karena itulah, ketika mendekati bulan Ramadan, para sahabat merasa girang karena menyadari betul bahwa perasaan bahagia dari lubuk hati terdalam dengan hadirnya bulan Ramadan akan menyelamatkan tubuh-tubuh dhaif dari api neraka. Tak hanya itu, mereka pun senantiasa memanjatkan doa dengan penuh harap: “Duhai Allah, antarkanlah aku sampai Ramadan, dan antarkanlah Ramadan kepadaku, dan terimalah amal-amalku di bulan Ramadan.” (HR ath-Thabrani) 

Kita semua berharap agar Allah menyampaikan usia dan kesehatan sampai bulan Ramadan. Kita juga memohon kepada-Nya supaya Ramadan kita terbebas dari berbagai kerusakan yang dapat mengurangi kesempurnaannya. Kemudian kita berharap agar Allah memampukan kita menyempurnakan Ramadan hingga akhir, ditandai dengan diterimanya berbagai amal ibadah kita selama bulan Ramadan.  

Ketakwaan buah dari puasa menghujam di dalam hati. Ketika puasa itu membekas di dalam hati maka ia akan merasakan hatinya begitu lembut dan jiwanya semakin bersih. Mudah menerima kebaikan, menjauhi keburukan, waspada terhadap syubhat (wira’i), senantiasa bertaubat, dan melepaskan ikatan-ikatan terhadap makhluk serta memaafkan kesalahan-kesalahan orang lain. 

Hati pun semakin sensitif dan peka. Sensitif dalam hal teposliro, tidak merasa diri paling hebat dan benar, selalu meniti amal perbuatannya sendiri, dan menghargai sesama dalam beragam hal. Sedangkan kepekaan hasil-olah puasa membuat orang peka akan problematika sosial, peka kepada tetangga yang kekurangan, tidak membanggakan diri, harta, jabatan dan kedudukan, serta menjadi pribadi yang entengan kepada pihak yang membutuhkan. 

Maka dari itu, ketika ada berbagai himbauan untuk stay at home di bulan Ramadan dengan jamaah shalat dan aktivitas keagamaan dari rumah, selayaknya kita tetap menyemarakkannya di dalam hati, menggemuruhkannya di dalam batin. Karena semarak Ramadan sejatinya bukan ingar-bingar dengan ragam masakan berbuka, bukan gemerlap lampu hiasan, bukan dentuman petasan atau tabuhan genderang sahur. Melainkan mempuasakan hati dari ragam kekotoran; lisan dari ungkapan jorok, kasar, dan menyakitkan; mata dari pandangan keji dan merendahkan orang lain; seluruh tubuh dari perbuatan munkar dan sia-sia.

Seperti ungkapan apik dari Imam al-Qusyairi dalam Lathaif al-Isyarat: bagi siapa yang sekadar menahan sesuatu yang membatalkan maka akhir dari puasanya ketika tersingkapnya malam. Dan siapa yang puasanya menahan diri berbagai kecemburuan (aghyar) yang menduakan maka puncak puasanya dengan menyaksikan al-Haqq. Dengan ungkapan lain, puasa batin adalah puasanya hati (qalb) dari segala penyakitnya, lalu meningkat menjelma puasa jiwa (ruh) dari semua bentuk kenyamanan dan ketenangan, dan puncaknya dalam puasa sirr dari segala bentuk pengawasan.

Sehingga menyemarakkan hati dengan puasa batin menjadi sesuatu yang terpenting. Ia menjadi inti dari aktivitas ukhrawi sekaligus duniawi, bangunan keberagamaan yang harus meningkat, dan menjadi penanda melangitnya kualitas ruhani seorang hamba. Inilah puasa Rabbani. Puasa yang tujuan intrinsiknya semata-mata untuk Allah swt., bukan yang lain. Puasa untuk dapat berdialog dengan Allah dalam relung jiwa terdalam. Wallahu a’lam bish shawab. (*)

Editor: Ikrob Didik Irawan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved