Mutiara Ramadhan

Keutamaan Ramadan : Saat Pintu Surga Dibuka dan Pintu Neraka Ditutup Rapat

bersuka cita dengan datangnya bulan Ramadan saja, Allah SWT akan mengharamkan jasadnya masuk neraka

Penulis: Tribun Jogja | Editor: Mona Kriesdinar
Mina News
ilustrasi 
Imam Machali
Imam Machali (ist)

*Oleh: Imam Machali, LP Maarif DIY dan Direktur SMP dan Pesantren Bumi Cendekia

Kita telah memasuki bulan Ramadan tahun 2020 M/ 1441 M. Bulan penuh anugrah, rahmat, dan ampunan. Bulan yang lebih baik dari seribu bulan, bulan yang dilipatgandakan amal kebaikan, dan dipupus amal keburukan.

Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah SAW, “Man shoma romadhona imanan wahtisaban ghufiro lahu maa taqoddama min dzanbih”. “Barang siapa berpuasa di bulan Ramadan dengan penuh keimanan dan mengharapkan keridhaan-NYa, maka semua dosanya yang lalu akan diampuni”.

Lebih dari itu, bersuka cita dengan datangnya bulan Ramadan saja, Allah SWT akan mengharamkan jasadnya masuk neraka.

“Man fariha biduhûli ramadhâna harrama Allahu jasadahu ‘alanniron”. Karena begitu banyaknya pintu-pintu kebaikan, ampunan, dan anugrah Allah di bulan Ramadan, konon—menurut ahli makrifat—para setan musuh dan penggoda manusia di Bulan Ramadan mengalami depresi hebat, stres berat, sedih, dan menderita. Bagaimana tidak, jerih payahnya selama setahun, menggoda, menjerumuskan manusia akan sia-sia dengan datangnya bulan Ramadan ini. Pintu-pintu surga dibuka, sementara pintu-pintu neraka ditutup, dan dia—setan—dibelenggu.

Pertanyaanya adalah jikalau para setan dan bala tentaranya dibelenggu di bulan Ramadan, mengapa kemungkaran, dan kemaksiatan yang erat-berhubungan dengan godaan setan masih saja ada di bulan suci ini? Pertanyaan bernada gurauan seperti ini sering dilontarkan oleh jamaah dalam forum pengajian kita.

Untuk menjawab dan menjelaskan pertanyaan ini, menarik apa yang di sampaikan oleh Ibnu Baththal, dengan nama lengkap Abu Hasan Ali bin Khalaf bin Abdul Malik bin Baththal Al-Bakri Al-Qurthubi dalam Syarah Shahih al-Bukhari.

Dalam penjelasannya tentang hadits “Pintu-pintu surga di buka, pintu neraka di tutup, dan setan-setan dibelenggu” dapat bermakna dua hal: pertama, makna hakiki yaitu dalam pengertian yang sebenarnya, sehingga setan dan para kroninya intensitasnya dalam menggoda manusia di bulan Ramadan berkurang.

Berbeda dengan yang dilakukan pada bulan selain Ramadan. Dibukanya pintu-pintu surga, ditutupnya pintu neraka, dibelenggunya setan dipahami sesuai bunyi teks haditsnya (dzahirul hadits).

Kedua, bermakna majazi, yaitu makna dibukanya “pintu-pintu surga” di bulan Ramadan bermakna bahwa Allah membuka lebar-lebar pintu-pintu rahmat-Nya dengan melipat gandakan amal perbuatan di bulan Ramadan seperti puasa, tadarus, i’tikaf, zakat, sedekah, dan lain-lain.

Sehingga jalan menuju surga begitu mudah, dan sebaliknya karena begitu banyaknya bonus pahala atas kebaikan-kebaikan yang dilakukan di bulan Ramadan, pun begitu banyaknya rahmat dan ampunan Allah yang dilimpahkan, maka kesempatan perbuatan-perbuatan yang mengantarkan ke neraka tercegah atau tertutup, setan-setan seperti terbelenggu dari aktivitas dan produktivitasnya.

Pada akhirnya di bulan Ramadan ini, yang menentukan apakah benar “pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan para setan dibelenggu” adalah diri kita sendiri.

Apakah kita di bulan Ramadan ini semakin bersemangat, dan ihklas menjalankan ibadah, baik ibadah individual maupun sosial sehingga pintu-pintu kebaikan terbuka sehingga surga merindukan kita, dan neraka menutup pintunya, sedangkan setan berputus asa.

Banyak sekali ruang dan kesempatan untuk berbuat baik di bulan Ramadan ini, lebih-lebih di masa pandemi virus Covid-19 ini. Bukan hanya ibadah-ibadah ritual-individual, akan tetapi ibadah sosial. Kesalehan kita juga benar-benar diuji di bulan suci ini, apakah kita hanya mengejar kesalehan individu, dan abai terhadap kesalehan sosial. Atau mampu menyeimbangkannya yaitu saleh secara individu dan sekaligus sosial.

Muslim yang sempurna adalah yang mengintegrasikan keduanya, dan bulan Ramadan ini mengajarkannya. Berpuasa menahan lapar dan dahaga di bulan Ramadan mengajarkan rasa empati untuk mengalami sendiri penderitaan orang lain. Zakat yang kita keluarkan mengajarkan solidaritas sosial yang harus dikuatkan, bahu membahu, bergandengan tangan untuk terus peduli.

Semoga di bulan Ramadan ini semakin kokoh, kuat, dan meningkat kesalehan sosial yang berdampak pada solidaritas sosial kita, sehingga masa-masa sulit musibah wabah Covid 19 ini bisa dengan ringan kita hadapi bersama. Dengan demikian semoga kita tidak termasuk dari “banyak orang yang menjalankan ibadah puasa yang hanya mendapatkan lapar dan dahaga”. Amin. (*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved