Wabah Virus Corona
Prediksi Pakar Kapan Ekonomi RI Pulih Setelah Dihantam Pandemi Virus Corona
Ekonom senior dari Universitas Indonesia Faisal Basri memperkirakan kondisi perekonomian Indonesia akan sulit pulih akibat pandemi Virus Corona (COVID
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Iwan Al Khasni
TRIBUNJOGJA.COM, JAKARTA - Indonesia menghadapi pandemi Virus Corona penyebab COVID-19 sejak 3 Maret 2020.
Meski baru hampir dua bulan lamanya, namun pandemi Virus Corona sangat memukul perekonomian.
Banyak perusahaan yang merugi akibat pandemi global ini. Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawan mulai terasa.
Ekonom senior dari Universitas Indonesia Faisal Basri memperkirakan kondisi perekonomian Indonesia akan sulit pulih akibat pandemi Virus Corona (COVID-19).
Hal ini kata Faisal lantaran pemerintah menangani penyebaran COVID-19 secara tidak sigap dan serius.
Ia menilai India dan Iran lebih serius dalam penanganan pandemi COVID-19. Bahkan menurut Faisal, status Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang baru diterapkan sejumlah daerah termasuk DKI Jakarta 10 April lalu terkesan lamban.
"Jadi, secanggih-canggihnya penanganan ekonomi itu akan sia-sia dengan cara menangani pandemi ini secara amatiran seperti sekarang. PSBB baru diizinkan, indikatornya itu karena korban yang meninggal. Kalau korban meninggalnya sedikit, tidak ada diberlakukan PSBB," katanya dalam talkshow virtual, Jumat (24/4/2020).
Ia mengatakan, sektor riil pasti akan terdampak lebih dahulu akibat pandemi Virus Corona.
Namun, Faisal menyoroti justru aturan yang keluar yakni terkait stabilitas sistem keuangan.
Aturan tersebut yakni Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 1 Tahun 2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan.
Faisal juga menilai komandan yang memimpin penanganan pandemi COVID-19 tidak jelas.
"Penanganan pandeminya enggak jelas siapa yang jadi komandan? Luhut Pandjaitan atau Ketua Satgas atau siapa?," kata dia. Faisal mengatakan, pemerintah tak punya kemampuan yang besar untuk menahan laju anjloknya ekonomi.
Meskipun ada stimulus fiskal untuk penanganan pandemi COVID-19.
Meski begitu, Faisal memperkirakan ekonomi Indonesia dan negara lain akan mulai pulih secara bertahap mulai 2021.
Namun pemulihan itu ucapnya tidak akan secepat yang diperkirakan IMF.
"Saya melihat prediksi IMF itu konservatif dan dunia akan lebih buruk dari yang dibayangkan IMF. Pada 2021, tidak akan secepat itu recovery-nya," ujarnya.
Update virus corona di Indonesia
Update virus corona terbaru Jumat (24/4/2020) total kasus terkonfirmasi positif COVID-19 di Indonesia bertambah 436 kasus.
Sehingga total, hingga Jumat (24/4/2020) ini, jumlah kasus positif Virus Corona mencapai 8.211 orang.
Demikian disampaikan juru bicara pemerintah untuk penanganan Virus Corona, Achmad Yurianto.
Data terbaru yang dirilis pemerintah mengungkapkan bahwa masih ada penularan virus corona yang menyebabkan kasus COVID-19 di Indonesia terus bertambah.
Berdasarkan data hingga Jumat (24/4/2020) pukul 12.00 WIB, ada penambahan 436 pasien COVID-19 di Indonesia.
Dengan demikian, hingga saat ini jumlah totalnya ada 8.211 kasus COVID-19 di Tanah Air, sejak kasus ini pertama diumumkan pada 2 Maret 2020.
"Kasus positif yang terkonfirmasi hari ini adalah 436 orang, sehingga totalnya menjadi 8.211 orang," ujar Yurianto.
Berdasarkan data dan periode yang sama, diketahui ada penambahan 42 pasien yang kini dinyatakan negatif virus corona setelah menjalani dua kali pemeriksaan.
Penambahan itu menyebabkan total pasien sembuh ada 1.002 orang.
Akan tetapi, pemerintah mengungkapkan kabar duka dengan masih adanya penambahan pasien COVID-19 yang meninggal dunia.
Ada penambahan 42 pasien yang meninggal dunia setelah dinyatakan positif virus corona. Sehingga, total ada 689 pasien COVID-19 yang tutup usia di Tanah Air.(Kompas.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/aturan-psbb-ojol-dilarang-bawa-penumpang.jpg)