Mutiara Ramadhan

Peristiwa Kehidupan dan Uji Kualitas Keimanan

Peristiwa kehidupan itu pasti akan terjadi dan dialami oleh siapa pun. Sepanjang masih bernafas, kita pasti akan mengalaminya

net
Ilustrasi: Salat Dhuha 
Tajul Muluk, M.Ag
Tajul Muluk, M.Ag (ist)

Oleh: Tajul Muluk, M.Ag (Wakil Ketua LDNU DIY dan Staf Pengajar di Pondok Pesantren UII Yogyakarta)

DI dalam menyambut Ramadhan di tengah ujian pandemi seperti saat ini, pertanyaan yang layak diajukan antara lain: Sudah berapa usia kita sekarang ? Kejadian atau ujian apakah yang pernah melintas dalam perjalanan hidup kita?

Deretan pertanyaan ini ada yang bisa dijawab, ada pula yang tak melahirkan jawaban. Karena di dunia ini memang berlaku sebab-akibat dan tanda tanya. Tak jarang terjadi peristiwa di luar kemampuan baca dan prediksi, hingga kita terkaget-kaget dibuatnya.

Entah kaget bercampur bahagia, atau kaget bercampur kesedihan. Peristiwa kehidupan itu pasti akan terjadi dan dialami oleh siapa pun. Sepanjang masih bernafas, kita pasti akan mengalaminya.

Di dalam ajaran Islam, setiap peristiwa kehidupan memiliki makna penting yang harus dicari dan ditemukan. Kemudian difahami dan disikapi dengan kerangka keimanan. Sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an surat al-Ankabut [29] ayat 2, ikrar keimanan justru merupakan pintu gerbang memasuki ruang-ruang ujian kehidupan.

Ujian keimanan bukan hal baru dan khusus dikenakan kepada kita yang hidup sebagai orang beriman hari ini. Bahkan secara tegas disebutkan dalam surat al-Ankabut [29] ayat 3 bahwa umat terdahulu pun mengalami hal serupa. Dan ujian itu bertujuan sebagai media seleksi antara yang benar-benar berkualitas, atau sekadar ikrar basa-basi belaka.

Ath-Thabari menjelaskan tentang riwayat berkenaan dengan ayat di atas, bahwa Allah menguji umat-umat sebelumnya yang pernah dikirim utusan oleh Allah. Maka mereka pun berkata sebagaimana dikatakan umat-umatmu tentang musuh-musuhnya. Seperti halnya umat Nbai Musa, mereka diuji dengan kehadiran Fir’aun dan balatentaranya; pengikutnya Nabi Isa diuji dengan orang-orang yang menghianatinya.

Begitu juga Kami menguji umatmu dengan kehadiran musuh-musuh yang mengkhianatimu. Maka di antara para sahabatmu ada yang jujur dan ada pula yang tidak dalam ikrar keimanannya. Hal tersebut membuat Nabi gelisah, lalu berdoa, “Ya Allah, tampakkan lah di antara mereka yang paling unggul dalam ketakwaannya.”      

Hikmah kisah umat-umat terdahulu seperti di atas adalah bagian dari materi persiapan bagi kita yang hidup hari ini. Sekaligus dapat dimaknai sebagai bentuk limpahan kasih-sayang Allah SWT kepada kita agar senantiasa bersiap diri dalam segala situasi dan kondisi. Ujian adalah keniscayaan dalam kehidupan. Tak satu pun manusia bernyawa, tidak beriman atau beriman, yang tidak mengalami ujian dalam perjalanan hidupnya.

Berbicara tentang iman, artinya berbicara tentang banyak hal yang luas, dan bisa jadi tidak banyak kita ketahui. Rasulullah saw. pernah menggambarkan perihal keluasan iman ini dengan mengatakan, iman itu bisa lebih dari 70 cabang.

Bahkan malu saja disebut sebagai bagian dari iman [HR. Muslim; No. 57]. Jika perihal keimanan itu sedemikian banyak jumlahnya, maka uji kualitasnya pun mesti berkisar di jumlah yang tidak jauh beda.

Kita bisa mengambil contoh dalam praktik keseharian, bagaimana ujian keimanan itu kita jalani.  Dalam shalat, misalnya, kita membaca surat al-fatihah sebagai salah satu syaratnya. Dalam bacaan fatihah kita membaca kata ar-Rahman dan ar-Rahim masing-masing sebanyak 2 kali dalam satu kali baca.

Belum lagi dijumlahkan dalam bilangan rakaat yang dilakukan dalam beberapa kali shalat. Kata Rahman dan Rahim adalah dua sifat sekaligus nama Allah swt. Tentunya, membaca dua kalimat tersebut tidak sekadar membaca saja.

Tujuan terpenting dari kedua sifat itu adalah menumbuh-kuatkan keimanan kita tentang welas-asihnya Sang Pemilik nama tersebut; Allah swt. Akan tetapi, apakah setiap yang membaca akan mengalami penguatan keimanan ? Jawabannya belum tentu, meski pun secara verbal dinyatakan beriman. Sebab keimanan tidak cukup dengan diungkapkan dengan kata-kata, bahkan ia akan diuji setiap saat.

Situasi pandemik global seperti yang kita alami hari-hari ini, keimanan kita mendapatkan ujian yang lebih, baik secara kualitas sekaligus kuantitas. Seperti contoh di atas, hari ini, keimanan kita terhadap rahman-rahim, welas asihNya Allah swt. benar-benar mengalami momentum uji kualitas. Bagaimana kita hari ini, tetap menjaga iman dengan meyakini bahwa Allah swt. tetap akan memelihara kita.

Bahwa peristiwa yang sedang menimpa kita tetap berada dalam naungan kasih sayangNya, bahwa kita tetap dalam pantauanNya. dalam sebuah pesannya, Rasulullah saw. menasehati umatnya agar senantiasa membangun prasangka baik kepada Allah swt. Bagi orang beriman, keyakinan bahwa Allah swt. tidak akan menguji di luar batas kemampuannya, harus tetap dijaga, sebab itu adalah janji yang pasti.

Dari tulisan singkat ini, ada beberapa kata kuci yang perlu digaris bawahi; pertama, ikrar keimanan adalah gerbang menuju ruang-ruang uji kualitas keimanan. Kedua, uji kualitas keimanan adalah suatu keniscayaan yang tidak hanya diperuntukkan kepada kita, tetapi juga umat beriman sebelum kita.

Ketiga, setiap ucapan kita terkait sifat atau nama Allah swt. dapat menjadi materi uji keimanan yang harus selalu dipersiapkan. Kelima, berbaik sangka kepada Allah swt., bahwa setiap peristiwa kehidupan yang kita alami tetap berada dalam dekap kasih saying dan pantauanNya.

Selamat menunaikan ibadah puasa, semoga amal ibadah kita diterima oleh Allah SWT. (*)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved