Ramadan 2020

Keutamaan dan Amalan yang Bisa Dilakukan di Bulan Syaban Jelang Bulan Suci Ramadan

Bulan Syaban menjelang bulan Ramadan adalah salah satu bulan yang dimuliakan. Dalam kalender Hijriah, bulan Sya'ban merupakan bulan sebelum Ramadhan

Tayang:
Editor: Mona Kriesdinar
bacaan.web.id
Berdoa 

TRIBUNJOGJA.COM - Sebentar lagi umat muslim akan memasuki bulan suci Ramadan 1441 H. Muhammadiyah sendiri telah menetapkan awal Ramadan 2020 ini jatuh pada 24 April 2020 mendatang.

DOWNLOAD Jadwal Salat dan Imsak Ramadan 2020/1441 H Provinsi Jawa Timur

Kini, Bulan Syaban menjelang bulan Ramadan adalah salah satu bulan yang dimuliakan.

Dalam kalender Hijriah, bulan Sya'ban merupakan bulan sebelum Ramadhan dan sesudah bulan Rajab.

Rasulullah pernah mengingatkan para sahabat agar meningkatkan ibadah pada bulan Syaban ini.

Di dalam bulan Sya’ban terdapat banyak hikmah dan keutamaan, hal ini sebagaimana dijelaskan Sayyid Muhammad dalam karyanya Madza fi Sya’ban.

Salah satu amalan yang dianjurkan untuk umat muslim adalah menjalankan puasa.

Menurut pengakuan ‘Aisyah, Rasulullah banyak puasa di bulan Sya’ban dibandingkan bulan yang lain.

‘Aisyah berkata, “Aku tidak melihat Rasulullah puasa satu bulan penuh kecuali bulan Ramadhan dan aku tidak melihat beliau puasa banyak seperti halnya puasa di bulan Sya’ban” (HR: Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat yang lain, Rasul pernah ditanya salah seorang sahabat, “Puasa apa yang paling utama selain puasa Ramadhan?” Rasul menjawab, “Puasa di bulan Sya’ban karena untuk mengagungkan Ramadhan” (HR: al-Tirmidzi)

Jadi, salah satu alasan diutamakan puasa Sya’ban adalah untuk mengagungkan Ramadhan dan sekaligus sebagai latihan untuk mempersiapkan diri puasa wajib di bulan Ramadhan.

Berikut niat puasa sunah bulan Sya'ban:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ شَعْبَانَ لِلهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma ghadin ‘an ada’i sunnati Sya‘bana lillâhi ta‘ala

Artinya: “Aku berniat puasa sunah Sya‘ban esok hari karena Allah SWT.”

Pada bulan Sya'ban, Rasulullah memperbanyak puasa dan hal ini dijelaskan dalam sebuah hadis riwayat Imam Bukhari.

Diriwayatkan dari Abu Salamah, Aisyah berkata: "Nabi tidak berpuasa pada satu bulan lebih banyak selain di bulan Sya’ban. Sesungguhnya Nabi berpuasa pada bulan Sya’ban (seolah-olah) pada seluruh bulan."

Namun perlu diperhatikan, meskipun Rasulullah memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, tapi Rasulullah sendiri menyarankan kepada umatnya agar melakukan amalan sesuai dengan kemampuannya.

Dalam riwayat al-Bukhari ditegaskan, “Beramallah semampu kalian, karena Allah SWT tidak pernah bosan, sehingga kalian bosan duluan”

Doa malam nisfu Sya’ban:

Di malam nisfu Sya’ban kita bisa memanjatkan doa kepada Allah SWT untuk panjang umur, murah rezeki, dan tetap iman.

Kita juga biasanya membaca 3 kali Surat Yasin di sela doa tersebut.

Sayyid Utsman bin Yahya menyebutkan doa berikut ini yang dibaca saat malam nisfu Sya’ban seperti dilansir dari nu.or.id adalah sebagai berikut:

اللَهُمَّ يَا ذَا المَنِّ وَلَا يُمَنُّ عَلَيْكَ يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ يَا ذَا الطَوْلِ وَالإِنْعَامِ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ ظَهْرَ اللَّاجِيْنَ وَجَارَ المُسْتَجِيْرِيْنَ وَمَأْمَنَ الخَائِفِيْنَ.
اللَهُمَّ إِنْ كُنْتَ كَتَبْتَنِي عِنْدَكَ فِي أُمِّ الكِتَابِ شَقِيًّا أَوْ مَحْرُومًا أَوْ مُقْتَرًّا عَلَيَّ فِي الرِزْقِ، فَامْحُ اللَّهُمَّ فِي أُمِّ الكِتَابِ شَقَاوَتِي وَحِرْمَانِي وَاقْتِتَارَ رِزْقِي، وَاكْتُبْنِي عِنْدَكَ سَعِيْدًا مَرْزُوْقًا مُوَفَّقًا لِلْخَيْرَاتِ فَإِنَّكَ قُلْتَ وَقَوْلُكَ الحَقُّ فِي كِتَابِكَ المُنْزَلِ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّكَ المُرْسَلِ “يَمْحُو اللهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الكِتَابِ” وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالحَمْدُ لِلهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ

Allâhumma yâ dzal manni wa lâ yumannu ‘alaik, yâ dzal jalâli wal ikrâm, yâ dzat thawli wal in‘âm, lâ ilâha illâ anta zhahral lâjîn wa jâral mustajîrîn wa ma’manal khâ’ifîn.

Allâhumma in kunta katabtanî ‘indaka fî ummil kitâbi syaqiyyan aw mahrûman aw muqtarran ‘alayya fir rizqi, famhullâhumma fî ummil kitâbi syaqâwatî wa hirmânî waqtitâra rizqî, waktubnî ‘indaka sa‘îdan marzûqan muwaffaqan lil khairât.

Fa innaka qulta wa qawlukal haqqu fî kitâbikal munzal ‘alâ lisâni nabiyyikal mursal, “yamhullâhu mâ yasyâ’u wa yutsbitu, wa ‘indahû ummul kitâb” wa shallallâhu ‘alâ sayyidinâ muhammad wa alâ âlihî wa shahbihî wa sallama, walhamdu lillâhi rabbil ‘alamîn.

Artinya, “Wahai Tuhanku yang maha pemberi, engkau tidak diberi.

Wahai Tuhan pemilik kebesaran dan kemuliaan.

Wahai Tuhan pemberi segala kekayaan dan segala nikmat.

Tiada tuhan selain Engkau, kekuatan orang-orang yang meminta pertolongan, lindungan orang-orang yang mencari perlindungan, dan tempat aman orang-orang yang takut.

Tuhanku, jika Kau mencatatku di sisi-Mu pada Lauh Mahfuzh sebagai orang celaka, sial, atau orang yang sempit rezeki, maka hapuskanlah di Lauh Mahfuzh kecelakaan, kesialan, dan kesempitan rezekiku.

Catatlah aku di sisi-Mu sebagai orang yang mujur, murah rezeki, dan taufiq untuk berbuat kebaikan karena Engkau telah berkata–sementara perkataan-Mu adalah benar–di kitabmu yang diturunkan melalui ucapan Rasul utusan-Mu, ‘Allah menghapus dan menetapkan apa yang Ia kehendaki.

Di sisi-Nya Lauh Mahfuzh.’ Semoga Allah memberikan shalawat kepada Sayyidina Muhammad SAW dan keluarga beserta para sahabatnya. Segala puji bagi Allah SWT.” (*)

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved