Buat Tas yang Konon dari Tulang Belakang Manusia, Nama Arnold Putra Jadi Sorotan

Tas karya desainer Indonesia, Arnold Putra menjadi sorotan karena konon menggunakan bahan yang tak biasa yaitu tulang belakang manusia.

Tayang:
Penulis: Fatimah Artayu Fitrazana | Editor: Yoseph Hary W
www.instagram.com/byarnoldputra
Tas karya Arnold Putra yang konon terbuat dari tulang belakang manusia. 

TRIBUNJOGJA.COM - Hari ini, Selasa (14/4/2020) nama Arnold Putra menjadi perbincangan di media sosial dan laman berita luar negeri karena karyanya di tahun 2016 lalu.

Sebenarnya, nama Arnold sudah mulai dibahas sejak seorang pelajar dan kurator berusia 19 tahun, bernama Maxim mengunggah tangkapan layar akun Instagram @byarnoldputra, di akun Twitter miliknya @wqbisabi pada 23 Maret lalu.

Dari sinilah asal mula pembicaraan seputar Arnold Putra menjadi ramai di media sosial. 

Yang menjadi topik pembicaraan dari unggahan tersebut adalah tas karya Arnold yang dalam deskripsi foto tertulis terbuat dari lidah aligator (buaya) dan bagian peganganya dari tulang belakang seorang anak yang menderita osteoporosis.

Dilansir Tribunjogja.com dari laman Insider.com, Arnold mengatakan jika akun tersebut bukan dioperasikan olehnya, namun akun itu ada andil dalam mempublikasikan karya-karyanya.

Saat dihubungi Insider, Arnold enggan menjelaskan apakah benar tas itu terbuat dari tulang belakang sungguhan dan milik seorang anak.

Dia hanya mengatakan jika tulang itu didapat dari sumber kesehatan di Kanada dengan dokumen yang jelas.

Di Kanada, seseorang memang diperkenankan untuk membeli tulang dari perusahaan berlisensi yang menerima donasi organ untuk keperluan medis dan menjualnya jika jumlahnya berlebih.

Meski dia mengklaim apa yang dilakukannya legal, Arnold enggan memperlihatkan bukti dokumen yang dia sebutkan sebelumnya.

Menurutnya, itu adalah bagian dari kerahasiaan perjanjian.

Arnold juga mengatakan jika tas tersebut adalah bagian koleksi yang belum selesai dan melibatkan material yang dia klaim belum pernah ada dalam pembuatan pakaian.

Dia tetap mengklaim bahwa bahan yang digunakan adalah stok medis yang berlebih. 

"Ini adalah bagian dari proses pembelajaran kreatif yang harus melibatkan oposisi, kalau tidak, itu hanya akan menjadi bentuk validasi yang berulang," katanya, dikutip dari Insider.com.

Dia tidak berniat untuk menjual habis dan akan terus merealisasikan ide-idenya. Insider melaporkan tas ini dihargai sebesar 5.000 dolar Amerika Serikat atau Rp 78,3 juta.

( Tribunjogja.com | Fatimah Artayu Fitrazana)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved