Astaga! Di Turkmenistan, Saat Ini Menyebut Virus Corona Saja Bisa Dipenjarakan

Pemerintah setempat dikabarkan melarang virus bernama resmi SARS-Cov-2 itu tidak boleh digunakan baik oleh media maupun jurnal kesehatan.

CAPTURE YOUTUBE
PRESIDEN TURKMENISTAN - Presiden Turkmenistan Gurbanguly Berdymukhammedov menunjukkan kebolehannya menggunakan senjata pada 2017. 

TRIBUNJOGJA.COM, ASHGABAT - Pemerintah Turkmenistan dituding membuat hidup warganya dalam risiko setelah melarang adanya kata virus corona, bahkan melarang orang mengenakan masker.

Pemerintah setempat dikabarkan melarang virus bernama resmi SARS-Cov-2 itu tidak boleh digunakan baik oleh media maupun jurnal kesehatan.

Bahkan, jurnalis di negara yang dikenal tertutup itu mengklaim, penduduknya dilarang untuk mengenakan masker ketika berada di luar rumah.

Ashgabat mengklaim seperti diwartakan Daily Mirror Rabu (1/4/2020), mereka belum mendapati adanya infeksi virus corona di wilayah mereka.

Meski begitu, laporan dari dalam Turkmenistan menyatakan, setiap orang yang sengaja mendiskusikan Covid-19 bakal berakhir di penjara.

Harian Turkmenistan Chronicle, yang tidak bisa diakses di dalam negerinya, mengulas brosur yang dirilis kementerian kesehatan setempat.

Dalam brosur tersebut, kementerian sama sekali tidak membahas pandemi yang telah menewaskan lebih dari 40.000 orang di seluruh dunia.

Kemudian Radio Azatlyk yang independen juga mengklaim mereka mendapati laporan bahwa masyarakat dilarang memakai masker saat di luar rumah.

Jeanne Cavelier, Kepala Jurnalis Lintas Batas Wilayah Eropa Timur dan Asia Tengah menyatakan, Ashgabat menerapkan metode ekstrem untuk memberangu diskusi mengenai Covid-19.

"Penyangkalan informasi ini tak hanya tak hanya membahayakan warga Turkmenistan. Tapi juga bentuk pemerintahan otoriter Presiden Gurbanguly Berdymukhammedov.

Halaman
12
Editor: Joko Widiyarso
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved