Pendidikan

Perlunya Memperkuat Sistem Kesehatan Nasional untuk Hadapi Ancaman Baru

Sistem kesehatan nasional perlu terus diperkuat untuk menghadapi ancaman-ancaman baru yang mungkin belum pernah dihadapi sebelumnya.

Perlunya Memperkuat Sistem Kesehatan Nasional untuk Hadapi Ancaman Baru
istimewa
Outbreak Talkshow Series yang berlangsung Jumat (28/2/2020) di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM. 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Ketahanan suatu negara terhadap ancaman penyakit menular bergantung pada kemampuan dalam mencegah serta mengendalikan penyakit. 

Direktur Field Epidemiology Training Program (FETP) Indonesia, dr I Nyoman Kandun, MPH mengatakan sistem kesehatan nasional perlu terus diperkuat untuk menghadapi ancaman-ancaman baru yang mungkin belum pernah dihadapi sebelumnya.

“Sama seperti tentara, meskipun tidak pernah berperang tapi persenjataannya harus diperbarui terus dengan yang lebih baik,” ujarnya dalam Outbreak Talkshow Series yang berlangsung Jumat (28/2/2020) di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM.

Pakar UGM Sebut RUU Omnibus Law Cipta Kerja Belum Cocok di Indonesia

Kecepatan dan ketepatan, menurutnya menjadi krusial dalam upaya pengendalian penyakit karena ketika sebuah penyakit sudah menyebar hal tersebut akan mendatangkan dampak yang besar dan mahal. 

Di samping memperlengkapi fasilitas kesehatan dengan teknologi baru, perlu juga dilakukan pemantauan serta evaluasi terhadap sistem yang sudah dibangun.

Sementara itu, Direktur Pusat Kedokteran Tropis UGM, dr. Riris Andono Ahmad, MPH, Ph.D, menambahkan salah satu tantangan dalam upaya pengendalian penyakit menular adalah peredaran informasi melalui media massa ataupun media sosial.

Peredaran informasi tersebut justru menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat yang pada akhirnya menimbulkan ketidakpercayaan terhadap pemerintah dan institusi kesehatan.

“Yang lebih cepat menyebar daripada epidemi penyakit adalah epidemi kepanikan yang sekarang difasilitasi oleh media sosial, di saat orang jadi kehilangan kepercayaan pada para ahli dan lebih senang untuk mengikuti apa yang ada di media sosial,” terangnya.

Super Gampang! Tutorial Make Up Khusus untuk Musim Hujan

Ia memaparkan kasus kepanikan yang terjadi di Afrika akibat penyakit ebola sehingga masyarakat yang sudah tidak percaya terhadap pemerintah kemudian menyerbu fasilitas isolasi atau karantina dan membawa kerabat mereka yang menjadi pasien.

Padahal, tindakan ini justru semakin memperluas penyebaran penyakit.

Karena itu, masyarakat menurutnya perlu lebih bijak dalam menerima dan meneruskan informasi yang mereka dapatkan. 

Media massa, kata dia, juga perlu berperan dalam mencegah kepanikan dengan meletakkan fokus pemberitaan pada upaya-upaya pencegahan yang dapat diambil oleh masyarakat, bukan pada fatalitas atau justru menggali kelemahan dari sistem kesehatan.

“Cari sumber yang resmi dan terpercaya, itu akan jauh lebih bisa dipertanggungjawabkan. Jangan ikut menyebarkan rumor, itu menjadi kunci bagaimana kita bisa ikut membantu,” ungkapnya. (TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: Noristera Pawestri
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved