Breaking News:

Siswa SMPN di Sleman Hanyut

Layangkan Surat Edaran, Disdikpora Bantul Larang Sekolah Gelar Susur Sungai

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul melayangkan surat edaran yang ditujukan pada seluruh sekolah di Bumi Projo Tamansari, mengenai larangan keras men

TRIBUNJOGJA.COM / Ahmad Syarifudin
Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Bantul, Isdarmoko 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul melayangkan surat edaran yang ditujukan pada seluruh sekolah di Bumi Projo Tamansari, mengenai larangan keras menggelar susur sungai, maupun kegiatan pramuka yang memiliki risiko tinggi.

Hal tersebut dilakukan sebagai antisipasi agar insiden susur Sungai Sempor, di Sleman, yang menewaskan 10 siswa, tidak sampai terulang.

Bahkan, seandainya ada kegiatan di luar sekolah, harus mengantongi izin dari Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Bantul.

"Hari ini ya, surat tersebut sudah beredar ke seluruh sekolah. Isinya adalah larangan kegiatan Pramuka susur sungai, atau semacamnya, yang berpotensi membahayakan nyawa para siswa," tegas Kepala Disdikpora Bantul, Isdarmoko, Senin (24/2/2020).

Menurutnya, larangan ini tak berlaku untuk kegiatan-kegiatan pramuka yang sifatnya tidak membahayakan nyawa murid, seperti tali-temali di lapangan, ataupun di dalam lingkungan sekolah.

Dalam artian, edaran ini tidak memukul rata seluruh kegiatan siswa.

Buntut Tragedi Susur Sungai SMPN 1 Turi, Disdik Sleman Segera Susun Pedoman Kegiatan Luar Sekolah

"Akan tetapi, kalau ada kegiatan yang sifatnya lebih ke outbound, ya harus mengantongi izin terlebih dulu dari kami, harus dijelaskan dulu lah, semua rundown dalam kegiatan tersebut," terangnya.

Dirinya pun menegaskan, surat edaran ini bukan gertak sambal belaka, mengingat kondisi cuaca sedang tidak mendukung untuk kegiatan semacam itu.

Seandainya ada sekolah yang tetap bersikeras, pihaknya tidak segan menjatuhkan hukuman, atau sanksi berat.

"Fungsi larangan ini kan untuk menghindari kegiatan yang berpotensi memakan korban. Jadi, kalau cuma kemah-kemah, misalnya seperti Persami, masih kita perbolehkan, tapi ya tetap harus ada izinnya dari Disdikpora," tegas Isdarmoko.

Sementara Ketua Gerakan Pramuka Kwartir Cabang (Kwarcab) Bantul, Totok Sudarto mengatakan, insiden yang menimpa siswa SMP Negeri Turi tempo hari, bisa menjadi bahan evaluasi bersama, untuk melakukan managemen risiko kegiatan kepramukaan.

"Jadi, sebaiknya setiap kegiatan dipertimbangkan dengan matang dan diantisipasi sebaik mungkin bersama stakeholder yang ada," tuturnya.

Jawaban Pembina Pramuka SMPN 1 Turi yang Jadi Tersangka Saat Diingatkan Warga

Terlebih, kejadian serupa pun pernah terjadi di Bantul pada kisaran tahun 1990-an silam, meski korban jiwa tidak sebanyak di Turi.

Karena itu, ia meminta Gugus Depan Gerakan Pramuka mempunyai perencanaan kegiatan kedepan, yang benar-benar matang.

"Harus direncanakan sejak awal ya, kegiatannya apa, dimana, pesertanya siapa, alatnya apa. Lalu, yang tak kalah penting, sebelumnya juga harus dilakukan survei oleh pembina, sehingga bisa mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan," pungkasnya. (TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: Azka Ramadhan
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved