Wabah Virus Corona
Belum Ada Satupun Kasus Virus Corona di Indonesia, Peneliti: Masa Sih?
Hingga kini, virus corona memang belum terdeteksi di Indonesia. Padahal ada ribuan orang China yang berplesir di Bali. Menurut berita yang beredar
Penulis: Bunga Kartikasari | Editor: Rina Eviana
Belum Ada Satupun Kasus Virus Corona di Indonesia, Peneliti: Masa Sih?
TRIBUNJOGJA.COM - Hingga kini, wabah virus corona memang belum terdeteksi di Indonesia. Padahal ada ribuan orang China yang plesiran di Bali.
Menurut berita yang beredar, mereka juga meminta perpanjangan visa di Indonesia karena mereka tak bisa kembali ke negara asal akibat terkunci.
Pertanyaan para peneliti yang saat ini banyak menyeruak adalah masa sih Indonesia benar-benar bebas dari virus yang berasal dari Kota Wuhan, China itu? Atau prosedur keamanannya tak memadai?
Minggu lalu, lima peneliti dari Harvard TH Chan School of Public Health menganjurkan Indonesia dan Kamboja segera mengintenskan upaya memonitor kasus potensial.
Sebab, menurut analisis statistika, virus corona itu sebenarnya sudah sampai di Indonesia.
Namun entah mengapa sampai saat ini belum ada satupun dari 100 rumah sakit yang ditunjuk Kemenkes melaporkan adanya pasien virus corona.
Sementara, pemerintah Indonesia sendiri sudah mengevakuasi 285 orang yang sempat terkunci di Kota Wuhan.
Mereka semua kini sedang ada di Pulau Natuna, menjalani observasi hingga 17 Februari 2020.
Ketua Palang Merah Indonesia yang juga merupakan wakil presiden sebelumnya, Jusuf Kalla mengatakan mungkin saja virus corona itu sudah masuk di Indonesia.
• Bepergian 10 Ribu Kilometer, Seorang Pria Tularkan Virus Corona ke 11 Orang Lainnya
• Temuan Baru Virus Corona, Ada Penyebar Super di Wuhan, Menginfeksi 10 Petugas Medis dan 4 Pasien
Akan tetapi, banyak orang Indonesia yang tidak mengenali gejala yang muncul itu adalah simptom virus corona.
“Singapura punya sistem yang ketat tapi di sana virusnya juga bisa masuk,” katanya seperti dilansir New York Times.
Ia mengatakan bukan tidak mungkin sebenarnya sudah ada pasien dengan virus corona.
“Tapi orang-orang Indonesia tidak tahu atau tidak sadar kalau itu virus corona. Yang mereka tahu itu adalah demam atau demam berdarah,” ucap Jusuf Kalla lagi.
Ia juga mengungkapkan keprihatinan tentang seberapa siap Indonesia menangani wabah virus corona jika menyerang daerah terpencil di Indonesia.
“Indonesia itu punya banyak pulau. Kita punya banyak penghubung perkotaan. Mereka semua punya kemampuan yang berbeda. Mungkin kalau di Jakarta bisa terdeteksi, tapi bagaimana dengan nasib orang di Flores? Sulawesi? Kemampuan mereka terbatas,” tuturnya.
Ditambah, sistem kesehatan di Indonesia masih belum memadai. Menurut data tahun 2018 dari WHO, persentase dokter, bidan dan perawat masih terlalu kecil.
Akan tetapi, representatif WHO, Dr Navaratnasamy Paranietharan mengatakan Indonesia sudah melakukan yang terbaik untuk menyaring penumpang dan membekali rumah sakit dengan pengetahuan dan fasilitas manakala ada pasien terdiagnosa virus corona.
Kementerian Kesehatan mengatakan mereka telah mencoba mengetes setidaknya 50 kasus terduga dan semuanya negatif.
30 pekerja di perusahaan semen di Sulawesi Utara dimasukkan ke dalam karantina selama 14 hari setelah plesir ke China. Tidak ada satupun fari mereka yang terjangkit virus.
Menurut Achmad Yurianto, Sekretaris Pencegahan dan Pengontrol Virus di Kementerian Kesehatan, pasien yang datang dengan simptom segera terdeteksi.
“Kami tidak siap menghadapi wabah besar, tetapi kami siap untuk mencegah wabah," katanya.
“Kami tidak menunggu hal itu terjadi. Kami sebenarnya telah memperketat pencegahan,” tambahnya lagi.
Indonesia berpengalaman memantau wisatawan untuk penyakit, karena negara ini sempat terkena Sindrom Pernafasan Timur Tengah atau MERS.
Sekitar 1,4 juta orang Indonesia pergi dan ziarah ke Arab Saudi setiap tahun. Di situ, mereka bisa saja dihadapkan dengan MERS.
“Kami telah mengalami ini berkali-kali," katanya. "Mungkin negara lain tidak segiat Indonesia dalam menghadapi situasi seperti ini,” jelasnya lebih lanjut.
Indonesia memiliki tiga laboratorium yang mampu menguji virus corona baru, dua di Jakarta dan satu di Surabaya, kota terbesar kedua di Indonesia, di Jawa Timur.
Laboratorium dapat menguji 1.200 sampel sehari, katanya. Di seluruh negeri, 100 rumah sakit telah ditunjuk sebagai pusat untuk menangani dugaan kasus virus corona baru.
Sebelum perjalanan maskapai antara Indonesia dan China dihentikan pada 5 Februari 2020, ada 134 penerbangan seminggu dari Cina ke Bali, membawa sekitar 5.000 penumpang per hari.
Sementara di Bali, ada keluarga dari Shanghai sedang berlibur di Singapura bulan lalu ketika mereka mengetahui bahwa virus corona telah tiba di sana dari Cina.
Jadi mereka berkemas dan terbang ke negara terbesar di dunia belum melaporkan satu kasus virus mematikan: Indonesia.
Mereka mendarat di Bali, tujuan utama turis Tiongkok, pada 30 Januari dan tidak punya rencana untuk pergi.
“Orang-orang di Bali memperlakukan kami dengan baik dan ramah,” kata Eva Qin, 36, yang bepergian bersama ibu, suami, dan putranya.
“Kami tidak diberi tes kesehatan apa pun,” jelasnya.
Para ahli kesehatan mempertanyakan mengapa Indonesia belum melaporkan satu kasus virus corona, meskipun para pejabat lambat untuk menghentikan penerbangan nonstop dari Cina.
Indonesia menerima sekitar 2 juta turis Tiongkok per tahun, kebanyakan dari mereka di Bali.
( Tribunjogja.com | Bunga Kartikasari )
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/belum-ada-satupun-kasus-virus-corona-di-indonesia-peneliti-masa-sih.jpg)