Jalan Terjal BKSDA Lepaskan Ban dari Tubuh Buaya di Palu, Panggil Panji Petualang Hingga Sayembara

Jalan Terjal BKSDA Lepaskan Ban dari Tubuh Buaya di Palu, Panggil Panji Petualang Hingga Sayembara

Editor: Hari Susmayanti
AFP PHOTO/ARFA
Seekor buaya muara (Crocodylus porosus) dengan ban yang menjerat lehernya terlihat di sungai Kota Palu, Selasa (20/9/2016). Pihak konservasi setempat terus berupaya melakukan penyelamatan buaya berukuran sekitar 4 meter dengan ban yang melilit lehernya sejak tahun 2016 tersebut. 

TRIBUNJOGJA.COM - Upaya menyelamatkan buaya berkalung ban sepeda motor yang ada di Palu oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam ( BKSDA) Sulawesi Tengah sejak 2016 silam selalu gagal.

Untuk melepas ban motor dari badan buaya tersebut, BKSDA sudah mencoba sejumlah cara.

Mulai dari memasang jala dengan pemberat, menggunakan kerangkeng hingga mengundang Panji Petualang.

Namun usaha itu tak membuahkan hasil.

Terbaru, BKSDA sampai harus membuat sayembara untuk melepaskan jeratan ban dari tubuh buaya tersebut.

Warga yang berhasil melepaskan ban akan mendapatkan hadiah.

"Makanya sayembara itu kami buat. Barang siapa yang mampu mengeluarkan ban dari leher buaya itu akan mendapat hadiah yang setimpal. Tapi tidak ada DP, cash. Begitu keluar langsung bayar dengan mendapatkan penghargaan dari BKSDA," kata Kepala BKSDA Hasmuni Hasmar kepada wartawan, belum lama ini.

Hasmuni tak menyebutkan berapa dana yang disiapkan untuk sayembara itu.

Namun, sayembara itu akhirnya dihentikan karena sepi peminat.

Setelah upaya sayembara gagal, BKSDA memutuskan membentuk satgas yang di dalamnya terdiri dari Polisi Air dan Udara (Polairud) Polda Sulawesi Tengah, serta tim dari KKH Jakarta.

Satgas ini dibentuk untuk melepaskan ban yang ada di leher buaya.

Pemancing Temukan Buaya di Sungai Progo

BREAKING NEWS : Warga Moyudan Tangkap Buaya Sepanjang 1,5 Meter Saat Mancing di Sungai Progo

Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Pangi BKSDA Sulawesi Tengah, Haruna sekaligus Ketua Satgas mengatakan, upaya melepaskan ban di leher buaya tidak akan menggunakan tembakan bius.

"Kami menggunakan harpun (sejenis tombak). Cuma kendala ombak besar dan buayanya timbul tenggelam, berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Sehingga menyulitkan teman-teman menggunakan alat itu," kata Haruna.

Harpun yang digunakan BKSDA dibuat lebih aman dan tidak mematikan.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved