Jawa
Pengrajin Cangkul Klaten Siap Penuhi Pasar Nasional
Menurutnya, persoalan utama saat ini adalah penyaluran hasil produksi pacul yang belum terfasilitasi, lantaran belum adanya mapping soal titik keberad
Penulis: Victor Mahrizal | Editor: Ari Nugroho
Laporan Reporter Tribun Jogja, Victor Mahrizal
TRIBUNJOGJA.COM, KLATEN - Seusai diterpa masalah impor pacul, Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki memastikan, para perajin logam dan las di Pulau Jawa mampu memenuhi kebutuhan cangkul di dalam negeri.
Hal ini dikatakan Teten Masduki saat mengunjungi Koperasi Industri Pande Besi dan Las (Kopinkra 18) di Dukuh Karangpoh, Desa Jatinom, Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten, Selasa (4/2/2020).
Kedatangan Teten Masduki di PT. Wisanka Ceper, Sentra Industri Pande Besi & Las Kecamatan Jatinom dan Karanganom diterima Bupati Klaten Sri Mulyani dalam rangka mengenal pola industri kemitraan Berbasis RD & D.
• Diskopukmnakertrans Kota Yogya Pastikan Tidak Ada TKM di China
"Sesuai dengan perintah Presiden Jokowi, tidak boleh lagi impor pacul. Pacul harus sudah selesai di era 2.0 bukan di 4.0 seperti sekarang. Saya juga sudah bicara dengan Menteri Perdagangan supaya tidak impor. Harus siap produksi sendiri," ucap Teten Masduki.
Untuk membantu ketersediaan bahan baku pacul sendiri, menteri Teten telah meminta perusahaan pelat merah Krakatau Steel dalam menyediakan logam dan besi.
"Sudah dikoordinasikan Krakatau Steel. Saya juga meminta harga yang kompetitif, untuk para perajin," ujarnya.
Ketersediaan bahan baku logam dan besi untuk cangkul katanya, bisa digunakan perajin pacul yang basisnya pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), mampu membuat cangkul dengan kualitas baik dan bersaing dengan produk impor.
"Bapak-bapak perajin harus bikin pacul yang kualitasnya bagus ya. Jangan sampai mesti impor lagi. Untuk sekarang ini kita harus bangga pakai produk dalam negeri," imbaunya.
• Ribuan Durian Unggulan Klaten Dibagikan Gratis di Randulanang
Hingga saat ini tercatat, kebutuhan pacul di dalam negeri mencapai sekitar 10 juta cangkul.
Jumlah itu sebut Teten, seharusnya produksi dalam negeri sudah mampu mengakomodir kebutuhan tersebut.
Selama ini kebutuhan di industri UMKM terdapat sekitar 3 jutaan.
Menurutnya, persoalan utama saat ini adalah penyaluran hasil produksi pacul yang belum terfasilitasi, lantaran belum adanya mapping soal titik keberadaan para perajin yang lokasinya terpencar.
"Sekarang sudah harus terkoneksi dengan baik. Dari hulu ke hilir, produksi hingga pemasaran pacul harus segera dibenahi jika ingin memenuhi kebutuhan dalam negeri tanpa harus impor," jelasnya.
Ketua Umum Kopinkra 18 Umardhani mengatakan, sebanyak 40 perajin cangkul yang tergabung siap memenuhi kebutuhan cangkul dalam negeri.
Per bulan, koperasinya mampu menghasilkan sekitar 2 ribuan cangkul dengan harga jual mulai Rp 30 ribuan hingga ratusan ribu.(TRIBUNJOGJA.COM)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/pola-industri-kemitraan-berbasis-rdd.jpg)