Breaking News:

Wabah Virus Corona

Ada Wabah Virus Corona, Koalisi Dog Meat Free Surati Jokowi Imbau Pasar Hewan Tomohon Ditutup

Koalisi Dog Meat Free Indonesia (DMFI) dan Pejuang Kesejahteraan Hewan kirim surat terbuka untuk Presiden Joko Widodo,untuk menutup pasar hewan Tomoho

AFP Photo/Bay Ismoyo via Kompas.com
Ada Wabah Virus Corona, Koalisi Dog Meat Free Surati Jokowi Minta Pasar Hewan Tomohon Ditutup 

Untuk pencegahan virus corona ya langkah kita adalah mencegahnya dari China (melalui pemasangan alat pendeteksi suhu tubuh di bandara) dan bukan di pasar. Pintu masuk ke Sulut yang kita jaga," tambahnya.

UPDATE VIRUS CORONA : 7000 Terpapar Coronavirus dan 170 Orang Meninggal di China

Pasar Tomohon di Sulawesi Utara ini kondisinya disebut mirip dengan Pasar Huanan di Wuhan, China, yang membantai hewan-hewan liar, termasuk kelelawar, kucing, anjing, biawak, ular hingga buaya.

Hewan-hewan itu dikurung di kandang sempit, dikeluarkan dari kurungannya langsung dipukul-pukul hingga mati dalam kondisi meradang kesakitan.

Ketika hewan-hewan tersebut sudah tak bernyawa, bangkainya ditarik-tarik ke sana ke mari oleh para pedagang, konon demi menarik perhatian turis-turis, termasuk wisatawan mancanegara.

Namun komunitas pecinta hewan mengecam keras penyiksaan yang pernah dijadikan obyek wisata itu.

Pemandangan ekstrem

Koalisi Dogmeat Free Surati Jokowi Minta Pasar Hewan Tomohon yang Mirip Huanan Ditutup
Koalisi Dogmeat Free Surati Jokowi Minta Pasar Hewan Tomohon yang Mirip Huanan Ditutup (AFP Photo/Bay Ismoyo via Kompas.com)

Seperti diketahui, Pasar Huanan yang berada di Wuhan, China, disebut sebagai titik awal penyebaran Virus Corona.

Pasalnya, Pasar Huanan menjual berbagai hewan liar untuk dikonsumsi, seperti daging anjing, ular, tikus, dan lain-lain.

Pasar eskstrem di Tomohon Sulawesi Utara ternyata tidak jauh berbeda.

Pasar Tomohon berlokasi di Tomohon, Sulawesi Utara.

Hewan-hewan seperti anjing dan kucing dikurung di kandang.

Mereka pun dijual bersama ular, kelelawar, dan monyet.

Oleh karena itu, Pasar Tomohon disebut sebagai pasar ekstrem di Indonesia.

Dilansir TribunStyle.com dari Daily Mail, Alf Jacob Nilsen (64), seorang warga Norwegia berkesempatan mengunjungi Pasar Tomohon.

Nielsen mendokumentasikan apa yang ada di dalam pasar.

Dia menggambarkannya sebagai hal yang mengerikan terhadap binatang dijadikan sebagai daya tarik wisata.

Saat berada di lokasi, Nielsen menceritakan, dirinya merasa terganggu oleh para pedagang.

Sebab, para pedagang memainkan dan memutar-mutar hewan jualannya yang telah mati.

'Atraksi' tersebut dimaksudkan untuk menarik para pengunjung.

"Saya harus mengakui bahwa perasaan saya campur aduk saat di pasar. Sangat sulit untuk digambarkan," pensiunan ahli biologi dan fotografer amatir itu mengatakan.

Nielsen berpendapat, perlakuan terhadap hewan-hewan liar itu harus dihentikan.

Tak hanya perlakukan brutal yang dilakukan dan membuat hewan menderita, tetapi juga kemungkinan risiko penyebaran penyakit serius.

"Sungguh mengerikan melihat anjing-anjing liar yang dikurung ditarik keluar dari kandang mereka dan dipukul sampai mati dengan tongkat kayu," terang Nielsen.

 Dia menyayangkan bahwa penyiksaan itu justru dijadikan sebagai daya tarik untuk memikat lebih banyak wisatawan.

"Aspek lain yang sangat saya khawatirkan adalah ketika saya melihat spesies langka dijual, seperti monyet, kelelawar, burung, ular, dan reptil lainnya," ujar pria Norwegia itu.

Dahulu, Pasar ekstrem Tomohon terdaftar sebagai tempat wisata di Tomohon.

Namun, para aktivis kesejahteraan hewan mengeluhkan hal tersebut dan meminta untuk menghapusnya.

Selain karena perlakuan yang diterima hewan, para aktivis juga mengatakan bahwa tempat semacam Pasar Tomohon adalah sarana perkembangbiakan penyakit yang berpotensi fatal.

Meskipun begitu, perdagangan daging hewan lair masih berlanjut di sana.

Pasar tersebut juga mengantongi izin resmi dari pemerintah setempat.

Disebutkan, kucing dan anjing yang dijual diangkut secara ilegal dari luar negeri.

( Tribunjogja.com | Dwi Latifatul Fajri )

Penulis: Dwi Latifatul Fajri
Editor: Rina Eviana
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved