BNI Asset Management Prediksi Market 2020 Lebih Terjaga dan Clear

BNI Asset Management Prediksi Market 2020 Lebih Terjaga dan Clear BNI Asset Management Prediksi Market 2020 Lebih Terjaga dan Clear

BNI Asset Management Prediksi Market 2020 Lebih Terjaga dan Clear
iStockphoto via Kompas.com
ILUSTRASI 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Untuk memberikan apresiasi dan update perkembangan pasar kepada para nasabahnya, PT BNI Asset Management (BNl-AM) menyelenggarakan acara Market Outlook 2020 dengan tema ”20/20 Vision: Clearer Viewfor Growth”, Kamis (16/1/2020).

Tema ini dipilih dengan pertimbangan market di tahun 2020 lebih bergairah dibandingkan tahun 2019.

Hal tersebut karena beberapa faktor eksternal yang mempengaruhi kondisi perekonomian global dan domestik terutama pasar modal di tahun 2019.

Perekonomian global di 2019 diwarnai dengan risiko eksternal yang cukup volatile dengan adanya Trade War AS dan China.

Pertumbuhan ekonomi global pun terkena dampaknya, di mana hampir seluruh pertumbuhan GDP negara-negara di dunia mengalami perlambatan.

Putut Andanawarih, Direktur BNl-AM dalam paparannya mengatakan, pihaknya melihat negara-negara di seluruh dunia bereaksi cukup cepat terhadap perlambatan ekonomi ini.

"Stimulus-stimulus seperti penurunan suku bunga, penurunan Giro Wajib Minimum, serta easing stimulus Iainnya dilakukan oleh berbagai negara dunia untuk dapat bertahan dari ancaman perlambatan. Stimulus-stimulus tersebut cukup membuahkan hasil, dimana pertumbuhan GDP AS tidak melambat separah yang diperkirakan, begitupun juga dengan China dan India, bahkan Indonesia," ujarnya melalui rilisnya.

Rencana Pemerintah Cabut Subsidi Gas Elpiji 3 KG, Begini Respon Hiswana Migas DIY

Bos Asabri Balik Mengancam, Siap Tepuh Jalur Hukum

”Memasuki tahun 2020, kami melihat risiko dari terjadinya resesi mulai berkurang setelah datadata ekonomi dunia tidak seburuk yang awalnya dikhawatirkan. Akan tetapi, kami melihat era suku bunga rendah masih akan persists, dikarenakan masih perlunya insentif-insentif untuk menstimulus ekonomi," ujarnya.

Sambungnya, dari AS, titik penting dilihat ada di domestic consumption, karena hal tersebut yang berhasil menopang pertumbuhan ekonomi AS di tahun 2019. Jika konsumsi domestik berhasil di maintain, maka potensi resesi dapat berkurang. "Dari China, stimulus juga sepertinya masih akan diberikan, mengingat perang dagang masih menjadi overhang, meskipun tensinya sedikit menurun," katanya.

Untuk perekenomian Indonesia tahun 2020 diprediksi lebih baik dibandingkan dengan tahun 2019.

Ia juga melihat, pasca Pilpres 2019 dan konsolidasi dari pemerintahan, saat ini pemerintah sudah dapat berfokus untuk mengerjakan rencana dan kebijakan-kebijakan yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi.

Omnibus Law menjadi salah satu yang ditunggu, karena di dalamnya akan termasuk UU Tenaga Kerja, pemotongan pajak korporasi yang dapat mendorong investasi masuk ke Indonesia.

"Struktur trade balance Indonesia juga terlihat membaik, terutama dari sisi oil & gas. Terlihat impor oil dan gas Indonesia berangsur membaik selama 2019, yang merupakan katalis positif bagi nilai tukar Rupiah," imbuh Putut. (Tribunjogja/Amalia Nurul Fathonaty)

Penulis: Amalia Nurul F
Editor: Hari Susmayanti
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved