Gunungkidul

Sejak Desember Ada 21 Hewan Ternak Mati Mendadak di Gunungkidul

Sejak Desember 2019 hingga januari ini sebanyak 21 hewan ternak di Kabupaten Gunungkidul mati mendadak.

Sejak Desember Ada 21 Hewan Ternak Mati Mendadak di Gunungkidul
TRIBUNJOGJA.COM / Suluh Pamungkas
Berita Gunungkidul 

Laporan Reporter Tribunjogja Wisang Seto Pangaribowo

TRIBUNJOGJA.COM,GUNUNGKIDUL - Sejak Desember 2019 hingga januari ini sebanyak 21 hewan ternak di Kabupaten Gunungkidul mati mendadak.

Laporan terakhir yang masuk ke Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul sapi mati mendadak sejumlah 3 ekor yaitu terjadi pada Selasa kemarin.

Tiga ekor sapi yang mati mendadak tersebut berada di lokasi yang berbeda yaitu di Desa Pucanganom, Kecamatan Rongkop, Desa Sumberwungu, Kecamatan Tepus, dan Desa Kenteng Kecamatan Ponjong.

Cegah Anthrax Meluas, Pemkab Gunungkidul Mulai Aktifkan Pos Lalu Lintas Ternak

Kepala Seksi Kesehatan Hewan dan Kesmavet, Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul, Retno Widyastuti mengatakan laporan terakhir hewan mati mendadak pada kemarin malam yaitu yang terletak di Desa Kenteng, Kecamatan Ponjong.

"Selasa malam kami mendapatkan laporan dari warga kalau ada sapi yang mati mendadak, lalu kami dari dinas dan Puskeswan langsung melakukan pengecekan dan penanganan pada ternak yang ditemukan mati," ujarnya, Rabu (15/1/2019).

Retno menjelaskan penanganan yang dilakukan terhadap ketiga sapi yang mati mendadak tersebut adalah dengan melakukan pengambilan sampel tanah, kotoran, dan beberapa komponen lain yang akan dilakukan uji laboratorium.

Satu dari 12 Suspect Anthraks di Gunungkidul Meninggal Dunia

"Selanjutnya bangkai sapi tersebut dikubur dan sejumlah ternak disekitar lokasi tersebut dieberikan suntikan anti biotik," imbuhnya.

Ia menambahkan, hasil laboratorium yang berada di Dusun Ngrejek, Desa Gombang, Kecamatan Ponjong positif anthraks baik itu dari uji darah maupun dari uji dari sampel tanah yang diambil.

"Kalau untuk hewan ternak yang mati di titik-titik tertentu bukan berarti itu anthraks, biasanya kalau musim penghujan seperti ini memang banyak hewan ternak yang sakit lalu mati. Bisa saja keracunan makanan ataupun karena faktor lain namun bukan karena penyakit antraks itu.," katanya.

“Untuk antisipasinya memang kami lakukan upaya layaknya penanganan pada sapi positif antraks. Untuk di ngrejek sendiri huji lab kami ulang dan hasilnya masih positif, kalau untuk daerah lain karena negative maka tidak diulang tapi tetap dipantau,”tambah dia

Tujuh Warga Konsumsi Daging Suspect Anthrax, Dinkes DIY Pastikan Warga Sehat

Sementara itu, Asisten Perekonomian dan Pembanguann Setda Gunungkidul, Asman Latif meminta masyarakat untuk tetap tenang dan tidak perlu khawatir mengenai isu yang merebak di wilayah Gunungkidul ini.

Kendati demikan edukasi dan pemahaman terus diberikan kepada masyarakat agar jika ada sapi mati kemudian melapor ke petugas, jangan samapai budaya brandu yang sering dilakukan justru berdampak buruk.

“Pemerintah Gunungkidul sendiri berupaya penangan yang terbaik, sekali lagi pesan kami kepada masyarakat jangan menyembelih hewan yang mati atau sakit karena jika dagingnya dikonsumsi sangat berbahaya bagi kesehatan,” tegasnya.(TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: Wisang Seto Pangaribowo
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved