Jawa

Patra Adi Apresiasi Haul ke-3 Pangeran Diponegoro di Kota Magelang

Selain di Magelang, haul serupa juga dilaksanakan di Makassar, Bogor, Banyumas, dan Semarang.

Patra Adi Apresiasi Haul ke-3 Pangeran Diponegoro di Kota Magelang
Dokumentasi Humas Pemkot Magelang
Peringatan Haul ke-3 Pangeran Diponegoro komplek Museum BPK RI Kota Magelang, Rabu (8/1/2020). 

TRIBUNJOGJA.COM - Ketua Paguyuban Trah Pangeran Diponegoro (Patra Adi) Ki Roni Sodewo, mengapresiasi kegiatan peringatan Haul ke-3 Pangeran Diponegoro yang digelar di Kota Magelang, Rabu (8/1/2020).

Kegiatan yang diadakan di komplek Museum BPK RI itu dinilai menjadi langkah bagus dalam mengenal dan mengenang jasa pahlawan keturunan Raja Mataram Jogja itu.

“Ini langkah bagus entah ada keterlibatan pemerintah atau tidak. Ini momentum untuk mengenalkan pada generasi muda, salah satu ilmu yang patut kita ambil dari Sang Pangeran adalah jujur,” jelasnya.

Menurut generasi ke-7 Pangeran Diponegoro itu, haul serupa juga dilaksanakan di Makassar, Bogor, Banyumas, dan Semarang.

Wali Kota Magelang Ingin Dokter RSUD Tidar Solid

Ia menyebut trah Pangeran Diponegoro tersebar di berbagai negara, antara lain di Serbia dan Eropa.

"Mari kita ajak masyarakat sadar sejarah. Mari ajarkan anak-anak belajar sejarah, beri anak-anak dongeng sejarah. Agar genarasi muda peduli sejarah," katanya.

Hadir adalah acara tersebut Wakil Wali Kota Magelang Windarti Agustina, Pangdam IV/Diponegoro Mayjend TNI Mochamad Effendi, Kapolres Magelang Kota AKBP Idham Mahdi, dan segenap tamu undangan.

Windarti, saat membacakan sambutan tertulis Wali Kota Magelang Sigit Widyonindito, mengatakan haul ini dilaksanakan tepat di hari meninggalnya Pangeran Diponegoro, 8 Januari 1855 atau 165 tahun silam.

Pihaknya merasa perlu mengadakan haul ini, karena Sang Pangeran memiliki jejak sejarah penting di wilayah Kota Magelang.

Menurutnya, banyak hal yang bisa dipetik dari kisah perjuangan Pangeran Diponegoro.

Kamu Wajib Coba! Tiga Tips Super Gampang Membuat Lipstick Tahan Lama

Dalam Perang Jawa, Diponegoro mampu membuat Belanda rugi besar.

Sekitar 25 Juta Golden Belanda waktu itu habis untuk membiayai perang melawan Diponegoro.

Kemudian, Sebanyak 15.000 tentara Belanda juga tewas, sedangkan pejuang bangsa yang gugur syuhada 200.000 orang.

"Beliau keturunan raja, tapi rela keluar dari gemerlap Keraton dan memilih tinggal bersama rakyat di Tegalrejo. Sampai akhirnya berjuang melawan Belanda,” paparnya.

Acara ditutup dengan doa bersama dan tausyiah oleh KH Yakub Mubarok dari Parakan Temanggung. (TRIBUNJOGJA.COM)

Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved