Yogyakarta

Pandangan Psikolog Soal Siswa SD yang Jadi Korban Pelecehan Seksual Gurunya

Pelecehan seksual oleh oknum guru SD Negeri di Sleman terhadap belasan siswanya tersebut dikhawatirkan dapat menimbulkan trauma mendalam bagi para kor

Pandangan Psikolog Soal Siswa SD yang Jadi Korban Pelecehan Seksual Gurunya
Global Look Press
Ilustrasi 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Pelecehan seksual oleh oknum guru SD Negeri di Sleman terhadap belasan siswanya tersebut dikhawatirkan dapat menimbulkan trauma mendalam bagi para korban.

Psikolog Universitas Sanata Dharma (USD) Yohanes Heri Widodo mengatakan kasus pelecehan seksual tersebut merupakan masa kelam bagi si korban.

"Dalam kondisi itu mereka akan trauma, merasakan suatu hal yang boleh dikatakan masa kelam dalam hidupnya. Bahkan anak-anak dilecehkan di TK, sampai dia dewasa dia akan mengingat pengalaman itu," ujarnya Rabu (8/1/2020).

Guru Les Vokal Lakukan Pelecehan Seks ke Siswi SMP Saat Latihan Hingga Korban Hamil 8 Bulan

Hal tersebut, dikhawatirkan juga dapat menghambat korban ketika bersosialisasi dengan orang lain.

"Anak-anak seperti itu yang dia rasakan pertama takut, marah, kemudian ada perasaan bersalah, perasan jijik lalu harga dirinya yang akan kena," kata dia.

Oleh sebab itu pendampingan yang perlu dilakukan yakni dengan memastikan anak-anak apa yang telah terjadi bukan merupakan kesalahannya.

Anak tersebut harus diyakinkan bahwa peristiwa itu terjadi di luar kendalinya sehingga anak atau korban tersebut tidak perlu merasa bersalah.

"Dan tidak perlu menyalahkan dirinya. Harga dirinya dijaga supaya dia tetap merasa berharga, menjadi pribadi layak. Kalau harga dirinya jatuh, merasa bersalah maka dia tidak punya keberanian untuk menjalin relasi, untuk mengekspresikan diri. Dia menjadi pendiam dan menarik diri," ujarnya.

Sering Memaki dan Berteriak Ternyata Berpengaruh pada Psikologis Anak, Ini Alasannya

Konsultan Anak Sekolah Gajah Wong Herlita mengatakan anak-anak yang mengalami pelecehan seksual ketika masih kecil dan tidak mendapatkan trauma healing dengan baik, maka hal itu dikhawatirkan akan berulang kepada orang lain.

"Seperti siklus menyalahkan diri sendiri kemudian terulang ke orang lain. Trauma yang dialami anak tentu saja akan berpengaruh ke kehidupan jika tidak didampingi psikolog," ungkap dia.(TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: Noristera Pawestri
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved