Bisnis

Riset Bank Indonesia : Spending Wisatawan di Yogyakarta Masih Kurang dari Rp 2 Juta Per Hari

Rata-rata per hari untuk wisatawan dalam negeri menghabiskan Rp 1,5 juta, sedangkan wisatawan luar negeri menghabiskan Rp 1,9 juta.

Riset Bank Indonesia : Spending Wisatawan di Yogyakarta Masih Kurang dari Rp 2 Juta Per Hari
Foto: Internet
Wisata Jogja Sering Menjadi Jujugan Wisatawan 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Spending wisatawan baik manca negara maupun Nusantara di DIY masih kurang dari Rp 2 juta per hari.

Data dari riset Bank Indonesia Kantor Perwakilan DIY pada 550 wisatawan luar negeri dan Nusantara pada 2017, rata-rata per hari untuk wisatawan dalam negeri menghabiskan Rp 1,5 juta.

Sedangkan wisatawan luar negeri menghabiskan Rp 1,9 juta.

Dari data tersebut, komponen yang paling besar dikeluarkan yakni untuk transportasi yakni sebanyak 42,45%.

Pengeluaran untuk kuliner atau makanan dan minuman menjadi komponen terendah yakni 8,40%.

5 Desa Wisata di Sleman yang Jadi Destinasi Favorit Wisatawan Jelang Masa Libur Nataru

Sedangkan pengeluaran untuk hotel dan akomodasi sebesar 33,40%, disusul pengeluaran tiket destinasi 11,00%.

Kepala Tim Pengembangan Ekonomi Kantor Perwakilan BI DIY, Probo Sukesi mengatakan selain spending yang masih rendah, lama tinggal atau length of stay wisatawan juga masih rendah yakni di bawah dua hari.

Menurutnya, rendahnya spending dan length of stay wisatawan karena masih ada anggapan DIY terkenal dengan wisata murah.

Hal ini membuat wisatawan tak menyiapkan biaya besar untuk berwisata ke DIY.

"Teman-teman di luar Yogya bilang, rata-rata apa saja biayanya rendah di sini. Dengan anggapan ini, datang ke Yogya karena murah, tidak usah bawa uang banyak-banyak. Maka bagaimana mengemas atraksi, agar bisa menarik minat wisatawan berkantong tebal," ujarnya belum lama ini.

Jika dilihat dari kategori jumlah pendapatan per bulan, data dari Bank Indonesia Kantor Perwakilan DIY kebanyakan wisatawan yang berkunjung ada pada kategori menengah.

Tutorial Super Mudah Menghilangkan Kantong Mata

Kategori ini yakni wisatawan dengan pendapatan Rp10 juta ke bawah yang mencapai 60% untuk wisatawan Nusantara dan 72% untuk wisatawan luar negeri.

"Yang pendapatannya 10-20 juta 28 persen, dan yang di atas 20 juta hanya 12 persen (untuk wisatawan Nusantara)," ungkapnya.

Probo juga menyinggung soal pembiayaan perbankan untuk pariwisata yang masih di bawah rata-rata.

"NPL kredit pariwisata (risikonya) di atas rata-rata yaitu 4,01 persen. Sementara NPL kredit umum hanya 2,79 persen. Ini perlu kita benahi supaya menarik wisatawan terutama yang asing. Targetnya 2 juta wisman, sementara ini 800.000 saja belum, jadi memang agak susah," jelasnya. (TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: Amalia Nurul F
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved