Yogyakarta
JSSP #3 Resmi Ditutup
Pameran patung menjadi inspirasi masyarakat di Area Gumuk Pasir dan Merapi untuk menarik wisatawan datang berkunjung.
Penulis: Andreas Desca | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Closing ceremony pameran patung Jogja Street Sculpture Project #3 (JSSP #3) digelar di Pendhapa Art Space malam tadi, (10/12/2019).
Acara JSSP #3 secara simbolis ditutup dengan penyerahan buket bunga dari Dunadi selaku perwakilan Asosiasi Pematung Indonesia (API) kepada Yuliana Eni Lestari Rahayu perwakilan dari Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
“Semoga di JSSP selanjutnya lebih baik lagi dari JSSP#3," ungkap Rosanto Bima Pratama selaku ketua panitia JSSP #3.
Pameran patung menjadi inspirasi masyarakat di Area Gumuk Pasir dan Merapi untuk menarik wisatawan datang berkunjung dan sekaligus menjadi inovasi lokasi wisata.
• Berikut Tiga Lokasi Pameran Karya pada JSSP #3
"Capaian seniman dan karyanya sangat bermanfaat dari sisi kebudayaan dalam lingkup yang luas yaitu D.I. Yogyakarta. Harapannya terjadi regenerasi seniman muda dan bisa merambah kancah internasional. Semoga JSSP selanjutnya bias bekerjasama dengan API dalam merumuskan program kebudayaan dan melahirkan karya yang bagus,” katanya.
JSSP #3 kali ini telah melaksanakan berbagai program yaitu pameran maket, pemeran utama karya patung di tiga tempat Gumuk Pasir, kota, dan Merapi yang melibatkan 33 seniman patung nasional dan Malaysia.
Selain itu masih ada pula Workshop membuat patung di Gumuk Pasir dan Merapi, tour kamisan yang dilaksanakan tiga kali, performing art ruang publik merespons patung karya seniman, artis talk bersama pematung, seminar JSSP #3, dan lomba photocontest yang diraih oleh Bayu Yulian sebagai foto terbaik dan Novi Sumiyani pemenang like terbanyak di instagram.
“JSSP #3 telah terlaksana dengan baik dan lancar dan melalui proses panjang selama delapan bulan. Kegiatan ini terlaksana berkat kerja keras dari seluruh pihak seperti panitia, API, dan para seniman," kata Yuliana Eni Lestari Rahayu dalam sambutannya.
Kegiatan JSSP, lanjutnya, menjadi daya tarik wisata untuk masyarakat di lokasi karya ditempakan di titik strategis pariwisata.
Patung-patung karya seniman sangat ikonik dan menjadi pembelajaran bagi masyarakat yang melihatnya.
"Begitu pun workshop membuat patung sangat luar biasa dan disambut baik oleh warga sekitar Gumuk Pasir dan Merapi dan berdampak positif. Harapannya JSSP selanjutnya pada tahun 2021 bisa berada di desa budaya,"katanya.
"Saat ini terdapat 56 desa budaya di D.I. Yogyakarta dan 20 desa mandiri budaya. Dengan adanya JSSP semoga bisa menciptakan tumbuhnya desa budaya baru,” imbuhnya.
• Tutorial Super Mudah Menghilangkan Kantong Mata
Pada acara Closing ceremony ini dimeriahkan juga oleh Ngguya Ngguyu, sanggar seni RNB, dan Lentera Keroncong.
Dari informasi yang dihimpun Tribunjogja.com, JSSP #3 2019 mengusung tema “Pasir Bawono Wukir” yang merespons garis imajiner dan sumbu filosofis Yogyakarta.
Proyek ini menjadi platform intervensi artistik yang bukan semata menambah keindahan ruang, namun juga diikhtiarkan sebagai medium pemantik kesadaran masyarakat akan dinamika sosial yang terjadi.
Gagasan-gagasan kontemporer dalam JSSP secara sadar telah memproduksi generator kreativitas bagi tumbuhnya berbagai persepsi publik yang cerdas terhadap ruang hidupnya.
Lahirnya kesegaran interpretasi kreatif ini menjadi passion bagi JSSP untuk merevitalisasi peran strategis ruang publik sebagai laboratorium seni dan kreatifitas. ( TRIBUNJOGJA.COM | Andreas Desca Budi Gunawan )
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/jssp-3-resmi-ditutup.jpg)