Gunungkidul

Warga Playen Ciptakan Atabela, Alat untuk Mempermudah Petani Tanam Benih

Prihatin karena kurangnya regenerasi dan berkurangnya luas tanah pertanian di Gunungkidul membuat Jayadi, warga Desa Ngunut, Kecamatan Playen membuat

Warga Playen Ciptakan Atabela, Alat untuk Mempermudah Petani Tanam Benih
TRIBUNJOGJA.COM / Wisang Seto
Jayadi bersama karyawannya saat mempraktikkan atabela di lahan samping rumahnya, Selasa (3/12/2019) 

Caranya yaitu isi 2 tabung yang ada di atabela dengan benih, lalu satu orang mendorong atabela dan satu orang lainnya menariknya di depan dengan sendirinya benih jatuh ke tempat yang telah tercangkul oleh atabela.

Dinas Pertanian dan Ketahan Pangan DIY Siapkan 5 Ton Benih Siap Tanam

Uniknya menanam atabela tidak dengan cara menanam bisa namun menggunakan cara tanam jejer legowo.

Berbeda dengan tanam biasa jejer legowo dinilai bisa meningkatkan produksi tanaman hingga 30 persen.

Jejer legowo adalah cara tanam dengan memberikan jarak pada kanan dan kirinya kurang kebih 40 centimeter, sedangkan jarak tanam pada depan belakang dioerpendek menjadi 10 centimeter.

Dengan adanya jarak tersebut maka membuat sinar matahari yang masuk lebih maksimal ditambah lagi hama seperti tikus tidak menyukai tempat yang memiliki jarak yang cukup panjang.

"Petani-petani di Gunungkidul rata-rata sudah tua sedangkan mereka harus menggenjot produksi lahan mereka, ditambah lagi generasi muda minatnya di pertanian minim," katanya Jayadi, saat ditemui di rumahnya, Selasa (3/12/2019).

Jayadi mengatakan sebelumnya memang sudah alat yang menyerupai atabela ciptaannya namun kurang cocok jika digunakan di Gunungkidul karena tanah di Gunungkidul memiliki karakteristik yang keras.

"Sebenarnya ada alat yang mirip dengan ini tetapi kurang cocok kalau digunakan di Gunungkidul tekstur tanah disini lebih keras," jelasnya.

Ketersediaan Air untuk Pertanian Masih Menjadi Masalah Petani di Gunungkidul

Jayadi mengatakan atabela saat ini belum dipatenkan. Untuk membuat atabela juga tidak memakan waktu yang lama kurang lebih satu hari, satu atabela sudah jadi.

"Kalau harga ini masih tergolong murah yaitu Rp 1,8 juta. Bisa ditekan lebih murah lagi dengan mengurangi ketebalan plat yang digunakan tetapi saya pikir malah tidak awet nantinya," ujarnya.

Halaman
123
Penulis: Wisang Seto Pangaribowo
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved