Kesehatan

Era JKN, Bidan Praktik Kehilangan Banyak Pasien

Dari hasil penelitiannya, ia mengungkapkan bahwa bidan yang melakukan praktik mandiri banyak kehilangan pasien akibat adanya pemberlakuan BPJS.

Era JKN, Bidan Praktik Kehilangan Banyak Pasien
Istimewa
seminar yang bertajuk Impact of Reproductive Health Policies on Women's health di Ruang Semionar Agus Dwiyanto, Gedung Masri Singarimbun, PSKK UGM. 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Peneliti dari Universitas Nara Woman, Jepang, Prof. Dr. Etsuko Matsuoka memaparkan hasil penelitiannya mengenai peran bidan dalam bidang kesehatan reproduksi di Indonesia dari era tahun 90-an hingga pasca kebijakan jaminan kesehatan nasional.

Dari hasil penelitiannya, ia mengungkapkan bahwa bidan yang melakukan praktik mandiri banyak kehilangan pasien akibat adanya pemberlakuan BPJS.

"Lebih bayak pasien memilih untuk melahirkan lewat rumah sakit atau dokter kandungan," kata Etsuko Matsuoka dalam seminar yang bertajuk Impact of Reproductive Health Policies on Women's health di Ruang Semionar Agus Dwiyanto, Gedung Masri Singarimbun, PSKK UGM.

Menjadi Bidan dengan Penuh Ketulusan Hati

Padahal sebelumnya pada era tahun 1990-an masyarakat pedesaan  memilih melahirkan lewat dukun bayi.

Lalu terjadi pergeseran melalui penguatan peran bidan untuk meningkatkan kesehatan reproduksi perempuan.

"Sejak awal dulu di pedesaan, peran dukun bayi dan bidan sangat menentukan, lalu waktu itu ada semacam pergeseran peran dari  dukun bayi lambat laun ditangani oleh bidan karena ada kebijakan pada waktu itu," ujar dia dalam keterangan tertulisnya Sabtu (30/11/2019)

Seiring berjalannya waktu, banyak pasien ibu hamil memilih melahirkan di tangan bidan, sehingga banyak bidan membuka praktik sendiri.

Adanya target pemerintah untuk mencapai program pembangunan melalui MDGs ke SDGs dilanjutkan dengan pemberlakuan BPJS, proses persalinan lebih banyak dilakukan di rumah sakit sebagai rujukan dari pihak dokter keluarga, klinik pratama atau puskesmas.

"Ke arah sini, semakin lama pasien banyak dirujuk ke rumah sakit dibandingkan ditangani oleh bidan dengan alasan faktor risiko," tuturnya.

Persebaran Bidan di DIY Belum Merata

Matsuoka menuturkan bahwa salah satu rumah sakit bersalin di Jogja menunjukkan sekitar 54 persen pasiennya lebih memilih melakukan operasi caesar.

Halaman
12
Penulis: Noristera Pawestri
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved