SRC Pacu Toko Kelontong Jadi Penggerak Ekonomi Masyarakat

kma membina beberapa UKM yang memproduksi produk untuk mengisi Pojok Lokal SRC di tokonya

SRC Pacu Toko Kelontong Jadi Penggerak Ekonomi Masyarakat
Tribun Jogja
SRC Pacu Toko Kelontong Jadi Penggerak Ekonomi Masyarakat 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Toko kelontong sudah menjadi bagian dari masyarakat Indonesia lintas generasi. Kedekatan dengan masyarakat inilah yang membuat Sampoerna Retail Community (SRC) melakukan pendampingan usaha yang berkelanjutan kepada para pemilik toko kelontong untuk menjadi toko kelontong masa kini yang bertujuan untuk meningkatkan daya saing dan membantu pertumbuhan ekonomi kerakyatan di Indonesia.

Paguyuban SRC di Yogyakarta hingga saat ini telah tumbuh hingga sekitar 2.000 lebih toko. Satu di antaranya yakni SRC ACDC milik Yohanna Sukmawati yang berada di Jalan Kyai Mojo, Tegalrejo, Kota Yogyakarta. Wanita paruh baya ini bergabung dengan SRC sejak 2011 silam.

Sukma, sapaan karibnya, mengaku mengalami banyak perubahan terutama dalam mengelola dan menata toko kelontong yang telah ada sejak tahun 1986 ini. "Dari SRC dapat pendampingan soal penataan toko, diajarkan untuk rapi, bersih, terang. Pojok lokal juga harus digalakkan," ungkap Sukma saat ditemui di tokonya, Rabu (28/11/2019).

Lebih dari itu, Sukma juga menjadi tergerak untuk mengangkat Pojok Lokal SRC di tokonya. Ia pun mengajak orang-orang di lingkungannya untuk mengisi pojok lokal dengan produk mereka.

Sukma membina beberapa UKM yang memproduksi produk untuk mengisi Pojok Lokal SRC di tokonya. Sejauh ini telah ada dua UKM binaannya yang telah rutin berjalan meramaikan Pojok Lokal SRC.

"Ada dua binaan yang sudah jalan tiga bulan ini. Saya wanti-wanti harus cek kebersihan, dan lainnya. Karena ini kerja sama dengan SRC. Ada pendampingan untuk segi kemasan mereka diajarkan agar bisa lebih bagus," ungkap Sukma.

Yohanna Sukmawati mengajak UKM untuk menjual produk dagangannya di Pojok Lokal SRC
Yohanna Sukmawati mengajak UKM untuk menjual produk dagangannya di Pojok Lokal SRC (Tribun Jogja)

Bahkan, Sukma tak segan menjadi kritikus rasa produk makanan UKM binaannya. "Berkali-kali harus diulang karena rasanya kurang pas atau kemasannya kurang bagus," tuturnya.

Bersyukur, para pelaku UKM tidak keberatan atau menyerah untuk memperbaiki produk mereka. Seperti yang dialami Andres Jamal Jardani yang sampai tiga kali harus memperbaiki kualitas dan kemasan produknya.

Produk stick bawang dan keripik pangsit buatannya dirasa perlu diperbaiki lagi kala itu.

"Mulai dari rasanya, bentuknya, sampai cara mengemasnya berulang kali diperbaiki karena masih belum memenuhi," ungkapnya saat paparan pada awak media.

Halaman
12
Penulis: Amalia Nurul F
Editor: Ikrob Didik Irawan
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved