Bisnis

One Village One Product, Dirjen IKMA Dorong Fokus Optimalisasi Potensi Komoditas Bahan Baku Lokal

IKMA Kemenperin mendorong masing-masing daerah untuk fokus mengoptimalkan potensi komoditas bahan baku lokal.

One Village One Product, Dirjen IKMA Dorong Fokus Optimalisasi Potensi Komoditas Bahan Baku Lokal
istimewa
Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian, Gati Wibawaningsih saat di Yogyakarta, Rabu (27/11/2019). 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Direktorat Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian mendorong masing-masing daerah untuk fokus mengoptimalkan potensi komoditas bahan baku lokal.

Hal ini untuk mendorong pelaksanaan Program One Village One Product (OVOP) yang saat ini tengah digaungkan sebagai upaya penguatan persaingan industri khususnya kecil dan menengah terhadap produk impor.

"Kita harus kembangkan potensi atau komoditas daerah lewat bahan bakunya. Karena produksi itu 60-70 persen adalah bahan baku jadi kalau bahan baku itu adalah komoditas daerah situ, harga kita (IKM) bisa bersaing (dengan impor)," kata Dirjen IKMA, Gati Wibawaningsih di Yogyakarta, Rabu (27/11/2019).

Dirjen IKMA Kemenperin Fokus pada Pengembangan Sentra IKM

Pihaknya tak menampik, saat ini beberapa produk IKM masih ada yang menggunakan bahan baku impor. Padahal ini menyebabkan pelaku IKM kesulitan bersaing dengan produk Non-IKM terutama masalah harga karena terlalu bergantung pada produk luar.

Pihaknya mendorong daerah agar menggali potensi maupun kearifan lokal yang mampu menjadi komoditas utama sehingga bisa menjadi bahan baku produk IKM.

Kendati demikian, Gati menjabarkan, saat ini masih banyak daerah yang kesulitan menentukan produk bahan baku lokal yang akan dioptimalkan. Ia menginstruksikan agar daerah fokus pada bahan baku yang dapat dihasilkan daerah tersebut dan fokus menggarap komoditas itu.

"Sebenarnya kendalanya hanya mereka kurang fokus. Dasarnya jelas, bahan baku produk harus dari daerah tersebut," tegas Gati.

Pihaknya berharap dengan nantinya jika ditemukan produk yang menjadi komoditas utama akan memudahkan pemerintah untuk mengembangkan komoditas tersebut.

Sehingga produk IKM dengan kearifan lokal dapat bersaing dengan industri besar bahkan produk impor.

UNBOXING KULINER: Snack Hits Super Ekonomis di Jogja

"Intinya sederhana saja, lihat komoditi yang bahan bakunya kita miliki. Misal kopi yang jadi komoditas utama, ya semua fokus ke kopi, bikin rumah produksi, bikin sentra kopi, promosikan kopi, pengolahan kopi, bikin kemasan ya untuk kopi," bebernya.

Hingga saat ini, daerah Jawa Tengah dan DIY masih menjadi daerah dengan penerapan OVOP yang baik di Indonesia dengan didominasi oleh produk kerajinan.

Namun secara nasional, produk olahan pangan masih menjadi komoditas terbesar diikuti kerajinan, anyaman dan gerabah.

"Kita harap produk IKM yang punya kearifan lokal daerah bisa berdaya saing tinggi," paparnya. (TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: Wahyu Setiawan Nugroho
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved