Pendidikan

Revolusi Pelatihan Jadi Alternatif Solusi Disparitas Guru di Jawa dan Luar Jawa

Ke depan tidak hanya fokus di akademis, karena pendidikan karakter juga penting untuk keberhasilan seseorang.

Revolusi Pelatihan Jadi Alternatif Solusi Disparitas Guru di Jawa dan Luar Jawa
istimewa
Diskusi Panel Karangmalang Education Forum #5 di Rektorat UNY, Rabu (20/11/2019). 

TRIBUNJOGJA.COM - Ketika membicarakan pendidikan milenial maupun revolusi industri 4.0, terdapat disparitas yang sangat jauh antara guru di Jawa dan Luar Jawa.

Namun ketika bicara masalah sumber daya manusia, hal ini tidak bisa dibedakan.

Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud RI Dr Supriano dalam diskusi panel Karangmalang Education Forum #5 di Rektorat UNY, Rabu (20/11/2019) menjelaskan, selama ini dalam melakukan pelatihan, para peserta dipanggil ke pusat, provinsi atau regional.

Menurutnya, yang menjadi pertanyaan tersendiri yakni apakah setelah selesai pelatihan para peserta akan mengimplementasikannya di sekolah dan siapa yang menjamin akan dijalankan di kelas.

Festival Budaya Pendidikan Khusus, Ajang Unjuk Gigi Penyandang Disabilitas

"Hal ini berjalan bertahun-tahun. Untuk itu di tahun 2019 saya mengadakan pergeseran besar-besaran yang disebut revolusi pelatihan," ungkapnya.

Supriano mengatakan di Dirjen GTK ada dua kebijakan zonasi yaitu pendistribusian guru dan pelatihan.

Menurutnya, di Indonesia ada 514 kabupaten namun memiliki 2.580 zona, oleh karenanya pihaknya mulai melakukan pergeseran dana ke pelatihan berbasis zona.

"Terdapat 1.200 instruktur nasional yang terdiri dari widyaiswara, dosen, guru senior dan sebagainya. Para instruktur nasional ini melatih para guru inti berbasis zona pada awal tahun 2019," katanya.

Menurutnya, untuk guru inti diberi tanggungjawab mengajar 20 guru lain sesuai mata pelajaran.

7 Rekomendasi Minuman Bubble Tea Kekinian di Jogja

Ke depan tidak hanya fokus di akademis, karena pendidikan karakter juga penting untuk keberhasilan seseorang.

Metode pelatihannya berupa 5-in 3-on dengan sistem blended learning.

Rektor UNY Sutrisna Wibawa dalam sambutannya mengatakan, dalam pengembangan ilmu, juga harus ada riset bersama antara LPPMP dengan LPTK.

"Pengalaman best practice di lapangan oleh widyaiswara juga perlu didukung pengembangan ilmu lewat riset," terangnya.

Sutrisna berharap, dalam diskusi ini bisa muncul inisiasi, kreativitas dan inovasi yang baru. (TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: Siti Umaiyah
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved