Lifestyle

Hati-hati, Otak Anak Bisa Rusak Apabila Terlalu Sering Menonton TV dan Bermain Gadget

Para peneliti menganalisis pemindaian otak anak-anak, usia tiga hingga lima tahun, dan paparan mereka terhadap layar.

Hati-hati, Otak Anak Bisa Rusak Apabila Terlalu Sering Menonton TV dan Bermain Gadget
afamilyforeverychild.org
Ilustrasi anak yang sedang belajar 

TRIBUNJOGJA.COM - Sebuah studi baru, yang diterbitkan dalam jurnal JAMA Pediatrics, menemukan bahwa ponsel, tablet, dan bahkan televisi dapat menunda perkembangan otak pada bayi, balita, dan anak prasekolah. 

Para peneliti berharap para orangtua membawa anak-anak kembali ke taman bermain dan tidak sibuk bermain online, karena efek negatifnya pada anak-anak.

Lulus Sarjana di Usia 9 Tahun, Laurent Simons si Bocah Jenius Lanjutkan Kuliah hingga Doktor

Para peneliti menganalisis pemindaian otak anak-anak, usia tiga hingga lima tahun, dan paparan mereka terhadap layar.

Anak-anak yang terpapar TV dan gadget selama lebih dari satu jam sehari tanpa keterlibatan orangtua, terlihat memiliki tingkat perkembangan yang lebih rendah dalam area putih otak mereka.

Keseruan Anak-anak saat Berinteraksi dan Bermain Dakon Bersama di Museum History of Java Bantul

Wilayah ini memainkan peran penting dalam keterampilan bahasa, literasi, dan kognitif.

"Ini adalah studi pertama yang mendokumentasikan hubungan antara penggunaan layar dan ukuran struktur dan keterampilan otak yang lebih rendah pada anak-anak usia prasekolah," kata John Hutton, penulis utama penelitian dan seorang dokter anak dan peneliti klinis di Rumah Sakit Anak Cincinnati.

"Ini penting karena otak berkembang paling cepat dalam lima tahun pertama."

Dia mencatat bahwa otak masih sangat plastis – perubahan yang tak dapat kembali ke bentuk semula, pada masa kanak-kanak.

Ini berarti setiap perubahan atau keterlambatan perkembangan mereka dapat menyebabkan masalah yang bisa bertahan seumur hidup.

Untuk penelitian tersebut, Hutton dan koleganya menganalisis 47 otak anak-anak sehat menggunakan MRI tipe khusus yang disebut diffusion tensor imaging.

Halaman
12
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved