Breaking News:

Sleman

Meningkatkan Eksistensi Bambu Melalui Ngayogjazz

Kolaborasi Ngayogjazz dan Festival Bambu Sleman ini diharapkan mampu mendorong percepatan perkembangan ekonomi kreatif Sleman.

istimewa
Masyarakat mengikuti workshop bambu 

TRIBUNJOGJA.COM - Ngayogjazz yang merupakan event tahunan jazz di Yogyakarta kini berkolaborasi dengan festival bambu Sleman.

Padukuhan Kwagon yang dipilih sebagai lokasi perhelatan acara ini juga sudah mulai mempercantik diri dengan hiasan bambunya.

Satu rangkaian acaranya adalah workshop bambu yang diikuti 80 peserta baik yang berasal dari dusun Kwagon maupun luar.

Tutorial Tampil Kece dengan Makeup Sachet yang Praktis dan Terjangkau

Kepala Dinas Pariwisata Sleman, Sudarningsih menyampaikan, kolaborasi Ngayogjazz dan Festival Bambu Sleman ini diharapkan mampu mendorong percepatan perkembangan ekonomi kreatif Sleman.

Khususnya subsektor kriya bambu dan seni pertunjukan sebagai subsektor unggulan Ekonomi Kereatif Sleman.

"Eksistensi event Ngayogjazz dengan ornamen-ornamen bambu pada setiap perhelatannya selaras dengan semangat rekan-rekan pegiat bambu, yakni untuk ruang publikasi hasil produksi dan ajang kreasi pegiat bambu Sleman," jelasnya Senin (11/11/2019).

Adapun pada hari minggu 10 November yang lalu dilakukan workshop dengan materi dari hulu sampai hilir tentang kriya bambu.

Pemkab Sleman Usul Bangun Rest Area Tol Yogya-Solo di Purwomartani Kalasan

Kegiatan dilanjutkan pada hari Jumat 15 November dengan menggelar produk-produk kreasi bambu Sleman pada ruang pameran di venue Ngayogjazz.

"Setelah workshop dilanjut membuat atau menganyam instalasi seni untuk event festival bambu berupa instalasi seni berupa gate, ornamen-ornamen seni alat musik dan lain-lain," urainya.

Untuk lebih menyemarakan Festival Bambu Sleman pada hari Sabtu pagi 16 November akan diselenggarakan lomba membuat kemasan dari bahan bambu dengan total hadiah Rp 12 juta bertempat di area satu dari beberapa panggung Ngayogjazz.

Eko Wiharto yang menjabat sebagai Ketua Asosiasi Sentra Bambu Sleman mengungkapkan upaya yang dilakukan oleh rekan-rekan Asosiasi Sentra Bambu tidak hanya memproduksi tetapi juga melakukan budidaya.

SMAN 1 Ngaglik Ditetapkan jadi Sekolah Siaga Kependudukan Pertama di Sleman

"Ini diharapkan mampu untuk menggugah geliat supaya bambu bisa memiliki nilai ekonomi yang lebih. Namun tidak ditampik juga bahwa desain produk menjadi masalah yang dihadapi oleh para pengrajin," terangnya.

Hal ini senada dengan penjelasan dari Yubdi Herdianto, perwakilan dari Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda).

Dikatakannya, banyak orang mulai meminati produk dari bambu terutama dari pasar internasional.

"Namun sayangnya dari segi desain, produk lokal masih belum dilirik karena dianggap kurang menarik. Oleh karena itu, perlu adanya inovasi yang dilakukan sehingga produksi kriya bambu dari pengrajin lokal mampu bersaing di dunia internasional," paparnya. (TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: Santo Ari
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved