Nasional

Pro-Kontra dalam Kabinet Jokowi

Arie Sujito, Sosiolog UGM menerangkan, apa yang dilakukan Jokowi menunjukkan adanya kompromi, dan bukan merupakan solusi permanen.

Pro-Kontra dalam Kabinet Jokowi
Istimewa
Diskusi Sintesis Bersama TAS bertema "Menakar Kabinet Indonesia Maju dari Perspektif Politik dan Hukum" di Sintesis Coffee & Space Jalan Kaliurang Sleman, Sabtu (9/11/2019). 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Masuknya Prabowo Subiyanto dalam Kabinet Indonesia Maju ibarat parasetamol, hanya meredakan tetapi tidak menyembuhkan.

Arie Sujito, Sosiolog UGM menerangkan, apa yang dilakukan Jokowi menunjukkan adanya kompromi, dan bukan merupakan solusi permanen.

Menurutnya, pemilihan anggota Kabinet Indonesia Maju telah menimbulkan reaksi optimis dan pesimis dari berbagai kalangan termasuk partai koalisi pendukung Jokowi.

"Kabinet ini menunjukkan Jokowi risau akan stabilitas sampai 2024 dan melakukan kompromi," terangnya dalam diskusi Desintas (Diskusi Sintesis Bersama TAS) bertema "Menakar Kabinet Indonesia Maju dari Perspektif Politik dan Hukum" di Sintesis Coffee & Space Jalan Kaliurang Sleman, Sabtu (9/11/2019).

Soal Rumor Sejumlah Tokoh yang Masuk Dewan Pengawas KPK, Presiden Jokowi : Masih Dalam Penggodokan

Arie menerangkan jika dirinya kurang setuju dengan banyak pengamat yang mendekotomi anggota kabinet, antara politisi dan profesional.

Menurutnya, Jokowi jangan bertaruh pada jabatan kementerian strategis.

"Setiap menteri dari partai politik harus profesional dan setiap menteri dari non partai harus berani mengambil kebijakan karena menteri adalah jabatan politis," terangnya.

Terkait penyelesaian beberapa kasus seperti KPK, Arie menilai masalah ini tidak semata hukum an sich, di sana ada hukum dan politik. Oleh karenanya, penyelesaiannya haruslah menyeluruh.

"Meski begitu mari kita beri kesempatan sampai enam bulan untuk membuktikan mereka mampu bekerja," terangnya.

Berbeda dengan Arie, Ray Adrian Aktivis Fakultas Hukum UGM menilai, masuknya Prabowo ke dalam kabinet Indonesia Maju seperti cemoterapi, yakni menyakitkan tapi menyembuhkan.

Gaji dan Tunjangan Menteri Kabinet Indonesia Maju, Termasuk Menhan Prabowo Subianto

Meski demikian, Ray turut mempertanyakan mengenai nama Kabinet Indonesia Maju yang diambil Jokowi, kenapa tak Indonesia Kerja II sebagai kabinet kelanjutan sebelumnya.

Dia juga menjelaskan jika kabinet Indonesia Maju ini tampak transaksional.

Ray memberi contoh tentang kekecewaan mahasiswa yang baru-baru ini melakukan aksi dan mengusung tujuh tuntutan.

"Mengapa kisruh RUU KUHP dan maraknya kebakaran hutan dan Yasona Laoly dan Siti Nurbaya Bakar tetap jadi menteri Kumham dan KLHK?," ungkapnya.

Menurutnya, dengan kabinet Indonesia Maju, membuat siapa saja yang pro pemerintah dan siapa oposisi menjadi kabur dan samar-samar. (TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: Siti Umaiyah
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved