Pendidikan

1.000 Siswa Sekolah Islam Terpadu di DIY Ikuti Kemah Kewilayahan Istimewa

Bertujuan untuk menumbuhkan kecintaan pada budaya lokal, JSIT melangsungkan Kemah Kewilayahan Istimewa di Bumi Perkemahan Prambanan.

1.000 Siswa Sekolah Islam Terpadu di DIY Ikuti Kemah Kewilayahan Istimewa
istimewa
Suasana Kemah Kewilayahan Istimewa yang dilangsungkan oleh JSIT, di Bumi Perkemahan Prambanan, Sleman, Kamis (7/11/2019) sore. 

TRIBUNJOGJA.COM - Bertujuan untuk menumbuhkan kecintaan pada budaya lokal, Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) melangsungkan Kemah Kewilayahan Istimewa di Bumi Perkemahan Prambanan, Sleman, selama tiga hari, pada 7-9 November 2019.

Ketua Panitia Zulharmin, ketika dijumpai di Bantul, Jumat (8/11/2019), menuturkan, lebih kurang 1000 siswa yang berasal dari sekolah IT seantero DIY, ikut ambil bagian dalam kegiatan tersebut.

Menurutnya, ada beberapa penekanan dalam agenda ini.

"Kita ingin mewujudkan siswa-siswi mandiri, tetapi dengan pendekatan budaya. Ya, generasi muda kan harus paham budaya lokalnya, dari Bantul apa, lalu Sleman gimana, ini yang coba kita bangun lewat agenda perkemahan tersebut," tuturnya.

Tutorial Tampil Kece dengan Makeup Sachet yang Praktis dan Terjangkau

Walau begitu, ia memastikan, penekanan budaya lokal itu, tetap diiringi dengan penekanan terhadap budaya yang diajarkan agama.

Sebagai lembaga pendidikan berbasis Islam, penekanan tersebut menjadi sebuah keniscayaan bagi para siswa dan siswi.

"Itu kan kekhusususan sekolah IT, soal ibadah, lalu persaudaraan, dan sebagainya. Jadi, di sini juga kita senantiasa tekankan mengenai kebersihan lingkungan. Itu budaya yang kita bangun," ucapnya.

Menariknya, dalam agenda tersebut, pihaknya pun mencoba untuk melakukan sedikit modifikasi terhadap budaya perkemahan pramuka.

Suharsono Larang Para ASN di Bantul Ikut Kampanye saat Pilkada 2020

Bagaimana tidak, kalau selama ini peserta kemah hampir pasti dijauhkan dari gadget, ajang ini malah sebaliknya.

Benar saja, panitia penyelenggara sama sekali tidak memakai pengeras suara elektronik untuk memberikan informasi pada peserta kemah.

Tetapi, semua instruksi disampaikan melalai WhatsApp grup yang dikomando oleh masing-masing pendamping regu.

"Jadi, yang pegang smartphone tetap pendampingnya ya, bukan siswa. Kita berharap, peserta baik di tingkat SD, maupun SMP bisa eksis di era 4.0, siap dengan perubahan," ungkap guru SMP IT Insan Mulia, Bambanglipuro, Bantul tersebut. (TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: aka
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved