Pendidikan

Pakar UGM Menilai Aksi Massa Generasi Milenial Masih Memiliki Kelemahan

Aksi massa mahasiswa dan elemen masyarakat beberapa waktu lalu cukup masif di berbagai daerah di Indonesia, termasuk di Yogyakarta dengan aksi #Gejaya

Pakar UGM Menilai Aksi Massa Generasi Milenial Masih Memiliki Kelemahan
IST
diskusi bertajuk ‘Revolusi Milenial! HAM, Demokrasi dan Pembangunan Di Masa Reformasi di University Club UGM 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Aksi massa mahasiswa dan elemen masyarakat beberapa waktu lalu cukup masif di berbagai daerah di Indonesia, termasuk di Yogyakarta dengan aksi #GejayanMemanggil.

Sosiolog UGM, Arie Sujito, menilai kendati aksi tersebut berlangsung damai, namun aksi massa yang sudah berlangsung tiga jilid dengan mengatasnamakan Aliansi Rakyat Bergerak (ARB) tersebut dinilai masih mengandung kelemahan.

Menurutnya, aksi massa seperti #GejayanMemanggil harus dilihat secara objektif supaya esensinya tidak mengalami distorsi atau bahkan terjebak dalam ‘festival politik’.

Arie mengatakan aksi massa akan menjadi relevan apabila bertujuan memengaruhi dan mendorong agar demokrasi lebih baik.

Sejumlah Catatan #GejayanMemanggil Jilid 2: Usung 9 Tuntutan, Aksi Damai hingga Wacana Aksi Lanjutan

Namun, jika dalam praktiknya tidak memiliki kejelasan arah maka menjadi tidak produktif.

"Mobilisasi massa oke, demonstrasi oke, tetapi jebakan terhadap praktik dan tindak kekerasan harus dicegah. Oleh karena itu, kesadaran datang sebagai subjek itu harus ada dalam setiap aksi sosial, siapapun yang melakukan,” tuturnya saat menjadi pembicara dalam diskusi bertajuk ‘Revolusi Milenial! HAM, Demokrasi dan Pembangunan Di Masa Reformasi di University Club UGM.

Ketidakjelasan arah aksi demonstrasi, disebutkan Arie, terjadi ketika massa yang bergerak tidak benar-benar memahami apa tujuan aksi.

Selain itu, juga belum melakukan kajian mendalam terkait tuntutan-tuntutan yang akan disampaikan.  

 “Saya kira setiap aksi itu harus lahir dari proses dorongan mereka untuk tujuan apa sebuah aksi. Biasa dalam sejarahnya itu harus ada dukungan, harus kita apresiasi. Tapi pada saat yang sama, pada saat aksi selesai harus ada kritik autokritik supaya apakah aksi ini akan menjawab sesuai harapan atau tidak? supaya terus berbenah,” ujarnya dalam keterangan tertulisnya, Kamis (7/11/2019).

Dalam pandangannya aksi #GejayanMemanggil masih memiliki kelemahan.

Kala Pelajar Menyuarakan Aspiransinya di #GejayanMemanggil 2

Kendati begitu Arie menyampaikan apresiasi terhadap upaya aksi tersebut karena masih ada sensitivitas politik di dalamnya.

“Tapi menjadi tidak jelas tujuanya untuk sekadar aksi atau untuk perubahan atau untuk apa? Karena itu spektrumnya luas, siapapun bisa bergabung waktu itu dengan tuntutan yang beragam. Saya rasa itu poinnya,” kata Arie.

Salah satu aktivis mahasiswa yang turut dalam #GejayanMemanggil, Gendis Syari Widodari, mengungkapkan aksi #GejayanMemanggil merupakan upaya untuk menciptakan kesamaan gerak atas banyaknya tuntutan masyarakat atas kebijakan pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat.

Namun demikian, Gendis sepakat dengan Arie Sudjito bahwa aksi massa tidak menjadi ‘karnaval politik’.

"Gerakan itu hadir memang perlu melihat konteks. Dalam mengkritisi kebijakan publik, massa aksi perlu memiliki tingkat pemahaman yang lebih atas isu yang akan diusung dalam aksi," kata dia.(TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: Noristera Pawestri
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved