Gunungkidul

Dorong Pendapatan Daerah, DPRD Gunungkidul Wacanakan Kembali Tapping Box

DPRD Gunungkidul akan mewacanakan kembali pemungutan pajak dengan tapping box sehingga setiap transaksi di sebuah restoran tercatat secara real time.

Dorong Pendapatan Daerah, DPRD Gunungkidul Wacanakan Kembali Tapping Box
TRIBUNJOGJA.COM / Suluh Pamungkas
Berita Gunungkidul 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Wisang Seto Pangaribowo

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Pendapatan dari sektor pariwisata mendapatkan sorotan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Gunungkidul, lantaran saat ini masih mengandalkan pendapatan dari retribusi.

Menurut Ketua DPRD Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, seharusnya retribusi dari lokasi wisata tidak menjadi andalan lagi tetapi harusnya sudah mengandalkan pajak.

"Di lokasi wisata-wisata Gunungkidul banyak restoran besar-besar harusnya kita mulai mengontrol pajak-pajak ke restoran-restoran besar, apa benar selama ini pajak sudah terbayar semua," ujarnya, Rabu (6/11/2019).

Tutorial Tampil Kece dengan Makeup Sachet yang Praktis dan Terjangkau

Endah mengatakan, pihaknya akan mewacanakan kembali pemungutan pajak dengan sistem online atau tapping box, sehingga setiap transaksi di sebuah restoran tercatat secara real time.

"Perlu disosialisasikan bahwa pajak itu yang membayar bukan dari pemilik restoran tetapi yang membayar adalah konsumen atau wisatawan yang jajan di resto tersebut. Kalau di Jogja kan sudah ketika transaksi maka dibebankan pajak sebesar 10 persen," ucapnya.

Menurutnya dengan sistem seperti ini pendapatan dari sektor pariwisata dapat bertambah secara signifikan.

Anggota Komisi B DPRD Kabupaten Gunungkidul, Eko Rustanto menambahkan, pihaknya sudah membuat simulasi hitung-hitungan pendapatan pajak di sektor pariwisata.

Pantai Jungwok Gunungkidul, DI Yogyakarta Harta Karun Tersembunyi yang Punya Pesona Memukau

"Peningkatan potensi pendapatan dari rumah makan bisa 400 persen, karena selama ini pajak restoran jangan dilihat dari totalnya, tetapi disitu ada dua kelompk ada pajak rumah makan dan kateringnya," ujarnya.

Ia menambahkan yang disasar untuk pajak rumah makan bukan yang beromzet kecil tetapi yang disasar adalah rumah makan yang beromzet puluhan juta.

"Kita ambil contoh 20 rumah makan ketika kita terapkan tapping box, dengan menggunakan Outcome Base Website (OBW) akan lebih maksimal, dengan hitung-hitungan dan menggunakan sistem online 20 rumah makan bisa mendapatkan Rp 7 miliar pertahunnya," ujarnya.

Ia menambahkan bukan rumah makan yang dibebani tetapi para pelancong yang belanja di rumah makan tersebut. (TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: Wisang Seto Pangaribowo
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved