Ratusan Peserta Meriahkan Festival Dolanan Tradisional di SMA Bopkri 2 Yogyakarta

Melalui Festival Dolanan Tradisional, SMA Bopkri 2 Yogyakarta mencoba memunculkan kembali dolanan tradisional di era digital

Ratusan Peserta Meriahkan Festival Dolanan Tradisional di SMA Bopkri 2 Yogyakarta
Tribun Jogja/ Noristera Pawestri
Berbagai permainan tradisional seperti Dhingklik Oglak Aglik, Dakon, Bas-basan, Nekeran, Gangsingan, Ingkling, Bakiyak, Egrang, Gobag Sodor dan Bekelan juga turut meramaikan Festival Dolanan Tradisional yang diselenggarakan oleh SMA Bopkri 2 Yogyakarta pada Sabtu (2/11/2019). 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Tiga orang anak yang mengenakan kaus olahraga tengah berdiri membentuk lingkaran.

Mereka berdiri saling membelakangi satu sama lain dengan posisi kaki terikat di belakang.

Kemudian mereka melonjak-lonjak dan bergerak memutar dengan satu kaki sambil bertepuk tangan dan diiringi lagu 'Pasang dhingklik oglak aglik, yen keceklik adang gogik, yu yu mbakyu mangga dhateng pasar blanja, leh-olehe napa.'

Tak hanya Dhingklik Oglak Aglik, berbagai permainan tradisional lainnya seperti Dakon, Bas-basan, Nekeran, Gangsingan, Ingkling, Bakiyak, Egrang, Gobag Sodor dan Bekelan juga turut meramaikan Festival Dolanan Tradisional yang diselenggarakan oleh SMA Bopkri 2 Yogyakarta pada Sabtu (2/11/2019).

Kepala SMA Bopkri 2 Yogyakarta, Sri Sulastri, mengatakan melalui Festival Dolanan Tradisional, SMA Bopkri 2 Yogyakarta mencoba memunculkan kembali dolanan tradisional di era digital saat ini.

"Ketika bergesernya masyarakat konvensional menjadi masyarakat digital, di mana dolanan tradisional ini menjadi asing bagi anak-anak yang lahir tahun 2000-an, kami berpikir bagaimana dolanan anak menjadi nilai penting untuk membentuk karakter mereka," ujarnya.

Selain untuk mengenalkan dolanan tradisional kepada generasi milenial, kegiatan ini juga untuk menumbuhkan cinta serta melestarikan budaya.

"Sehingga melalui kegiatan ini harapannya mereka mencintai dan memiliki keinginan kuat untuk melestarikan dolana tradisional," kata dia

Festival Dolanan Tradisional ini pertama kali diselenggarakan oleh sekolah.

Ia mengatakan, antusiasme para peserta untuk mengikuti lomba ini pun membludak.

Setidaknya lebih dari 500 peserta mulai dari tingkat SD, SMP, SMA hingga masyarakat umum pun turut memeriahkan Festival Dolanan Tradisional ini.

"Total hadiah mencapai Rp 50 juta dan ada grandprize satu unit sepeda motor. Harapannya, tahun-tahun mendatang kegiatan ini menjadi sebuah agenda tahunan SMA Bopkri 2 Yogyakarta," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Disdikpora DIY,  Kadarmanta Baskara Aji, yang hadir pada Festival Dolanan Tradisional ini mengatakan, dolanan tradisional bukan saja perlu dilestarikan, tetapi di dalamnya juga mengandung ajaran yang bisa membangun karakter.

Seperti membangun sportivitas, tanggung jawab, membangun kerjasama dan toleransi.

"Apalagi anak-anak sudah jauh dari hal itu. Apa yang didapat kalau anak bermain game di gawai? Tidak banyak, tapi kalau bermain seperti itu (dolanan tradisional) rasa sosialnya muncul," kata dia. (*)

Penulis: Noristera Pawestri
Editor: ton
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved