Yogyakarta Masuk Musim Pancaroba, Ini Imbauan BMKG Terkait Potensi Cuaca Ekstrim

Saat pancaroba permukaan bumi menerima panas matahari maksimum dikarenakan posisi matahari dekatan dengan Pulau Jawa, termasuk DIY.

Yogyakarta Masuk Musim Pancaroba, Ini Imbauan BMKG Terkait Potensi Cuaca Ekstrim
dok.ist/net
ilustrasi cuaca panas 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Andreas Desca Budi Gunawan

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA -  Saat ini wilayah Yogyakarta dan sekitarnya memasuki puncak musim kemarau dan masuk masa pancaroba.

BMKG pun memberikan imbauan kepada masyarakat untuk mewaspadai kondisi cuaca ekstrim yang berpotensi terjadi.

Beberapa di antaranya yakni suhu udara yang panas, angin kencang atau puting beliung, hingga hujan dengan intensitas sedang-lebat yang bersifat lokal.

Hoax! Pesan Berantai yang Sebut Suhu di Yogyakarta Capai 40 Derajat Celcius, Ini Penjelasan BMKG

Prakiraan Suhu Udara Yogya Hari Ini, Masih Panas Hingga Akhir Oktober

Kepala BMKG Staklim Mlati, Reni Kraningtyas, menjelaskan terkait faktor yang memicu cuaca ekstrim ini dapat terjadi.

Menurutnya, saat pancaroba permukaan bumi menerima panas matahari maksimum dikarenakan posisi matahari dekatan dengan Pulau Jawa, termasuk DIY.

"Kondisi ini mengakibatkan suhu permukaan meningkat namun distribusinya tidak merata akibat rupa bumi yang bervariasi. Ada yang bervegetasi, tanah lapang, maupun tutupan beton dan aspal, serta masih banyak lainnya," ujarnya kepada tribunjogja.com, Kamis (24/10/2019).

Suhu udara Yogyakarta pada Senin (21/10/2019) mencapai 37 derajat celcius
Suhu udara Yogyakarta pada Senin (21/10/2019) mencapai 37 derajat celcius (Accu Weather)

Ia menambahkan, distribusi panas yang tidak merata juga menyebabkan tekanan udara rendah bervariasi di beberapa tempat.

"Ini menyebabkan arah dan kecepatan angin yang bervariasi atau berubah-ubah di beberapa wilayah," jelasnya.

Prediksi BMKG Soal Awal Musim Hujan di Pulau Jawa, Kapan Yogya Hujan?

BMKG: Suhu Panas Disertai Angin Kencang Terjadi di Selatan Ekuator

Selain itu, dalam waktu yang bersamaan, kondisi suhu permukaan laut yang hangat membuat udara lembab.

Kondisi ini membuat udara lembab mudah terangkat oleh pemanasan matahari yang tinggi tadi (proses konvektif).

"Proses konvektif menghasilkan awan-awan Comulonimbus (Cb) yang tinggi sehingga berpotensi memicu terjadinya puting beliung," tuturnya.

Selin itu, Reni juga mengimbau untuk mewaspadai kondisi cuaca yang berfluktuasi, sehingga berpengaruh terhadap kesehatan. (*)

Penulis: Andreas Desca
Editor: ton
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved