Peringati Dies Natalis ke-70, UGM Berikan Penghargaan Anugerah Insan UGM Berprestasi 2019

Penganugerahan tersebut diberikan dalam malam Anugerah Insan UGM Berprestasi 2019 yang diselenggarakan pada Rabu (16/10/2019) malam

Peringati Dies Natalis ke-70, UGM Berikan Penghargaan Anugerah Insan UGM Berprestasi 2019
dok.istimewa
Sebanyak 112 penghargaan diberikan oleh UGM kepada para insan berprestasi dalam rangka Dies Natalis ke-70 UGM. 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Sebanyak 112 penghargaan kembali diberikan oleh UGM kepada para insan berprestasinya dalam rangka Dies Natalis ke-70.

Penerima penghargaan tersebut adalah mahasiswa, dosen, tendik, alumni maupun unit kerja dari UGM yang telah berprestasi baik di tingkat internasional, nasional, maupun dalam universitas sendiri.

Penganugerahan tersebut diberikan dalam malam Anugerah Insan UGM Berprestasi 2019 yang diselenggarakan pada Rabu (16/10/2019) malam, di Balairung kampus UGM.

Sekretaris Rektor UGM, Gugup Kismono, dalam laporannya mengatakan anugerah ini sebenarnya tidak sepadan dengan apa yang telah diberikan para penerima penghargaan dalam mengharumkan nama UGM maupun Indonesia.

Ia menyebut penghargaan tersebut tetap diberikan untuk lebih memotivasi mereka.

“UGM besar bukan karena jumlah sivitas serta alumninya, UGM besar berkat keterampilan tangan, kreativitas otak, kerendahan hati, serta spirit pengabdian untuk bangsa dari bapak, ibu, dan adik-adik sekalian,” kata Gugup dalam keterangan tertulisnya.

Seorang alumni UGM, Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid, menerima penghargaan Alumni Muda Berprestasi atas pengabdiannya dalam bidang pergerakan sosial.

Perempuan yang akrab disapa Alissa Wahid ini menyebut  tidak sedikit alumni yang juga bergerak di bidang yang sama dengan dirinya.

Ia menyebut hal itu tidak lain karena di UGM mereka tidak hanya memperoleh ilmu berdasarkan masing-masing jurusan, melainkan juga mendapat nilai-nilai, seperti keadilan dan inklusivitas.

Anugerah ini, menurutnya, merupakan angin segar bagi kalangannya tersebut.

“Pekerjaan saya ini bukan bidang yang kompetitif. Hal itu artinya tidak ada standar pasti untuk mengukurnya sehingga tidak ada angka pasti dalam menentukkan siapa lebih baik. Maka dari itu, penghargaan ini menunjukkan bahwa usaha kami dalam pergerakan sosial dihargai,” paparnya.

Raktor UGM, Panut Mulyono, berharap para pemenang, termasuk mahasiswa, menjadi agent of change.

Jika nanti kembali ke fakultas, unit, atau lingkungannya, ia ingin agar para pemenang tersebut dapat menjadi motivator bagi rekan-rekannya.

Dengan demikian, akan lebih banyak lagi insan UGM yang berprestasi.

“Penghargaan tidaklah berarti apa-apa karena prestasi yang diraih tidak hadir begitu saja. Prestasi merupakan hasil kerja keras, ketekunan, doa, serta dukungan dari orang-orang di sekitar kita. Mari kita perbanyak lagi kontribusi untuk kesejahteraan bangsa dan negara Indonesia tercinta ini,” kata Panut. (*)

Penulis: Noristera Pawestri
Editor: ton
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved