Pendidikan

Mahasiswa UGM Tawarkan Konsep Smart City Ibu Kota Baru RI

Himpunan Mahasiswa Pascasarjana, Sekolah Pascasarjana (SPS) UGM menyampaikan hasil kajian mahasiswa terhadap rencana pemindahan ibukota negara dari Ja

Mahasiswa UGM Tawarkan Konsep Smart City Ibu Kota Baru RI
IST
Himpunan Mahasiswa Pascasarjana, Sekolah Pascasarjana (SPS) UGM menyampaikan hasil kajian mahasiswa terhadap rencana pemindahan ibukota negara dari Jakarta ke menuju daerah Kalimantan Timur. 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Himpunan Mahasiswa Pascasarjana, Sekolah Pascasarjana (SPS) UGM menyampaikan hasil kajian mahasiswa terhadap rencana pemindahan ibukota negara dari Jakarta ke menuju daerah Kalimantan Timur.

Pemindahan ibu kota tersebut menurut mereka harus memperhatikan aspek pembangunan manusia, ketersediaan pangan dan pengelolaan  kota melalui sistem informasi yang terintegrasi.

Siapkan Dokumen, Ini Jadwal Resmi CPNS dari Oktober 2019 hingga April 2020

“Ibukota baru ini diharapkan tidak menciptakan kisah jakarta kedua dengan kompleksitas permasalahaannya,” kata Adkha Bukhori S.Pd,M.Pd.,mahasiswa magister ketahanan nasional SPs UGM dalam keterangan tertulisnya, Kamis (17/10/2019).

Peringati Dies Natalis ke-70, UGM Berikan Penghargaan Anugerah Insan UGM Berprestasi 2019

Menurut Bukhori, bila Jakarta tidak pernah lepas dari bencana banjir, begitupun dengan daerah lokasi ibukota yang baru di daerah Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kutai Kertangera yang kerap dilanda banjir dan kebakaran hutan dan lahan.

“Dalam kurun dua puluh tahun terakhir paling sering terjadi banjir dan bencana kebakaran hutan dan lahan,” katanya.

Meski tidak lepas dari risiko bencana, namun menurutnya pembangunan ibu kota negara lebih menitikberatkan pada pembangunan manusianya.

Sebab pembangunan kawasan ibukota baru nantinya akan berdampak pada penduduk lokal baik dari sisi ekonomi, sosial dan budaya.

“Pemerintah harus mampu melakukan pendekatan secara serius dan massif apalagi dengan infrastruktur dan teknologi yang digunakan mampu meminimalisir konflik bagi ibukota baru,” katanya.

Rektor UGM Ajak Bersatu Menjaga Indonesia, Menolak Aksi Anarkis dan Menolak Terorisme

HMP UGM mengusulkan, untuk mendukung kebutuhan pangan bagi kawasan ibu kota negara yang baru sebaiknya pemerintah menggunakan model pertanian dengan hidroponik vertikultur terintegrasi, penggunaan IoT, AI dan big data atau sistem informasi tertintegras, kota hutan dengan RTH yang terintegrasi, transportasi publik, smart water management, smart water management.

Direktur perkotaan, perumahan dan pemukiman, Kementerian PPN/Bappenas Tri Dewi Virgiyanti mengatakan, selain ketimpangan jumlah penduduk antara Jawa dan luar Jawa serta kesenjangan ekonomi menjadi salah satu petimbangan pemindahan ibu kota negara.

“Diperkirakan tahun 2045, sekita 95 persen akan menjadi kota urban sedangkan di pulau jawa jadi lumbung pangan,” katanya.

Soal konsep desain ibu kota yang baru, kata Tri Dewi, dalam waktu dekat pemerintah tengah membuat kajian master plan, desain tata ruang dan tata kota seperti apa kota yang akan dibangun.

Ibu Kota Pindah ke Kalimantan, Pembangunan Gedung Baru DPR Dibatalkan

“Membangun ibukota memang bisa 5-10 tahun selesai, namun pada akhirnya akan benar-benar rampung dalam waktu 20-40 tahun,” katanya.

Ia menambahkan pembangunan ibu kota dilakukan secara inklusif dengan pertumbuhan terkendali.

"Bentuk ibu kota nantinya bisa dijadikan bagian dari simbol identitas bangsa, smart city, green beautiful dan sustainable, modern dan berstandar internasional dan tata kelola pemerintahan yang efisien dan efektif," jelas dia.(TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: Noristera Pawestri
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved