Bantul
Siswa di Bantul Meninggal Dunia Setelah Dipukul Teman Satu Kelasnya
Insiden ini terjadi pada kisaran pukul 11.00 WIB, dalam kondisi kelas tidak terdapat guru, lantaran pergantian jam pelajaran.
Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM - Akibat bercanda di luar batas, RAW (12) akhirnya menghembuskan nafas terakhir, setelah mendapat pukulan di rusuk kanan, yang dilayangkan MRM (12), rekannya sendiri di sebuah sekolah swasta di Bantu Bantul, Senin (15/10/2019) siang.
Kepala sekolah menjelaskan, insiden ini terjadi pada kisaran pukul 11.00 WIB, dalam kondisi kelas tidak terdapat guru, lantaran pergantian jam pelajaran.
Namun, ia memastikan, sama sekali tak ada unsur kesengajaan pada kasus meninggalnya MRM.
"Hanya bercanda ya, usil saja. Apalagi, bercandanya, mukulnya kan tidak pakai alat. Kejadiannya ini di kelas, mereka berdua teman sekelas, sama-sama kelas VII, masih kecil-kecil anaknya," ujarnya, saat dijumpai di sekolah setempat, Selasa (15/10/2019).
• Grebek Pasar Isuzu Traga, Lebih Dekat ke Konsumen
Bahkan, lanjut Subakir, antara RAW dan MRM selama ini dikenal memiliki kedekatan layaknya sahabat, serta tinggal satu komplek di asrama.
Karena itu, ia meyakini anak pelaku tidak memiliki niatan jahat menghabisi nyawa korban yang merupakan rekan sejawatnya.
"Jadi, ya memang murni bercanda, tidak ada dendam, atau apalah, karena mereka teman akrab. Gojek gitu, saksi bilang korban ini sempat jatuh setelah dipukul, terus muntah, biasa ya, bukan darah," tuturnya.
"Dipukulnya pakai tangan, bukan pakai alat. Waktu rekonstruksi juga dijelaskan, hanya dipukul satu kali. Mungkin, kondisi korban kurang fit, karena beberapa minggu lalu sempat berobat di luar," imbuhnya.
• Kronologi Perkelahian Pelajar di Bantul Hingga Seorang Siswa Meninggal Dunia, Dipukul di Bagian Dada
Lebih lanjut, mengenai masa depan anak pelaku, pihak sekolah belum bisa mengabil keputusan.
Apalagi, ia menilai, MRM selama ini memiliki kepribadian sangat baik, plus prestasi akademiknya terbilang cukup menonjol dibandingkan siswa-siswa lainnya.
"Anak baik sekali, rajin jamaah paling depan, sudah hafal empat juz. Baik sekali, pendiam," ucapnya.
Subakir menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada orang tua siswa, karena menyangkut psikologis anak pelaku.
Ia menuturkan, hal tersebut harus dipikirkan secara matang, jangan sampai MRM terbebani jika harus melanjutkan pendidikan di sekolah ini.
• Kronologis 108 Siswa SMAN 1 Weleri Alami Keracunan Seusai Makan Ayam Geprek, 46 Orang Dirawat
"Karena masih kecil, mungkin ada trauma. Jadi, lebih baik diajak pulang dulu ke Kalimantan (Balikpapan), cooling down, sama-sama berpikir, kami di sini juga menimbang, yang terbaik untuk anak," tuturnya.
Is juga mengungkapkan, kasus ini tidak akan diperpanjang, karena orang tua anak korban menilai, tidak ada unsur kesengajaan di dalamnya.
Bahkan, keluarga sampai berdebat alot dengan tim dokter, lantaran menolak proses otopsi pada jenazah.
"Terutama bapak korban ya, sudah ikhlas, ridho, tak akan mempermasalahkan, karena ini murni musibah. Jadi, masalah ini diselesaikan secara kekeluargaan, meski anak pelaku sempat dibawa ke Polsek dan Polres juga pagi tadi," jelasnya. (TRIBUNJOGJA.COM)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/berita-bantul_20180731_185700.jpg)