Dilema Restorasi Gambut, Menjaga Kesimbangan Alam atau Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat

Seminar ini merespon permasalahan yang terjadi akibat pemanfaatan gambut untuk tujuan ekonomi.

Dilema Restorasi Gambut, Menjaga Kesimbangan Alam atau Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat
TRIBUNJOGJA.COM / Suluh Pamungkas
Berita Sleman 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Belum lama ini, mahasiswa penerima beasiswa LPDP di lingkup Universitas Gadjah Mada, Kelurahan LPDP UGM bekerja sama dengan Youth for Peatland menyelenggarakan seminar bertajuk AYO JAGA GAMBUT yang berfokus pada pemanfaatan gambut berkelanjutan.

Seminar ini merespon permasalahan yang terjadi akibat pemanfaatan gambut untuk tujuan ekonomi.

Namun langkah itu rupanya dianggap tak hanya membawa sisi positif, justru membawa persoalan serius terhadap kelestarian lingkungan.

Bertempat di gedung perpustakaan UGM, acara ini menghadirkan sejumlah narasumber seperti Ir. Nazir Foead, M.Sc (Kepala Badan Restorasi Gambut RI), Prof.Dr.Ir. Azwar Maas, M. Sc (Guru Besar Ilmu Tanah UGM), Dr.Ir. Sri Nurhayani Hidayah Utami, MP.,M.Sc (Dosen Ilmu Tanah Fakultas Pertanian UGM) dan Members of Youth for Peatland yang diwakili oleh 12 pemuda-pemudi yang pernah live in (tinggal) di Ex-PLG Kalimantan Tengah.

Azwar Maas dalam materinya menyebut, selain penebangan liar dan konversi lahan gambut untuk pemukiman dan pertanian, pembuatan kanal-kanal untuk transportasi kayu dan pembangunan perkebunan juga telah berdampak pada menyusutnya air rawa-rawa gambut, menurunnya keanekaragaman hayati, pencemaran perairan dan kematian mahluk air disebabkan tingginya bahan terlarutkan dalam air.

"Membantu masyarakat menemukan pola budidaya baru yang sesuai kondisi lingkungan biofisik sekaligus menguntungkan secara ekonomis dengan SOP teknik budidaya komoditas menjadi salah satu alternatif pembelajaran bagi masyarakat," jelas Azwar.

Sementara itu, Sri Nurhayani Hidayah Utami di hadapan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta dan praktisi lingkungan mengatakan, gambut sejatinya memiliki peran yang cukup besar sebagai penjaga iklim global.

Oleh karenanya, pendekatan berbasis kearifan lokal dalam pemanfaatan lahan patut dikembangkan mengingat masing-masing masyarakat dan wilayah memiliki perbedaan satu sama lain.

Seperti yang dilakukan petani-petani tradisional dengan sistem tajak-puntal-hambur yang berhasil menaikan pH tanah sesudah penyiapan lahan.

Selain itu, penting untuk bertani secara bijak dengan memilih jenis dan varietas tanaman yang sesuai kondisi lahan dan permintaan pasar.

"Usaha budidaya pun tidak perlu terlalu terpaku pada tanaman pangan, perlu melihat potensi tanaman tahunan, perikanan, dan peternakan kerbau rawa yang dapat menawarkan hasil dan sustainabilitas ekonomis yang lebih baik," tambah Sri. (*)

Penulis: Wahyu Setiawan Nugroho
Editor: ton
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved