Citizen Journalism

Sentuhan Ibu untuk Anak Berkebutuhan Khusus

Cinta dan perhatian ibulah yang membuat seorang anak mampu tumbuh, bertahan hidup, dan berkembang.

Sentuhan Ibu untuk Anak Berkebutuhan Khusus
Tribun Jogja/Hasan Sakri
ILUSTRASI - Anak berkebutuhan khusus diajak berkeliling Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta saat berlangsung Vredeburg Fair 2019, Kamis (19/9/2019). 

Tunzinah

Kepala Sekolah SLB Negeri 2 Yogyakarta

Mengutip tulisan Fira Basuki dalam Buku yang berjudul Sentuhan Ibu dijelaskan bahwa sentuhan ibu merupakan bentuk kasih sayang yang memiliki ribuan makna meskipun tanpa kata-kata. Sejak dalam kandungan, kasih sayang dan ketulusan ibu sudah terikat dengan bayi. Cinta dan perhatian ibulah yang membuat seorang anak mampu tumbuh, bertahan hidup, dan berkembang. Sentuhan ibu juga menimbulkan kekuatan, ketenangan, dan kedekatan setiap anggota keluarga, antara anak dengan orang tuanya.

Menurut Iris Nowacki, bahwa seseorang yang tumbuh dengan kontak fisik atau sentuhan lebih banyak sewaktu kecil, cenderung lebih mampu menurunkan tingkat stres, memiliki percaya diri, dan mudah bergaul. Hasil penelitian Brauer, et all 2016 menjelaskan, anak yang mendapatkan sentuhan kasih sayang yang cukup dari sang ibu memiliki tingkat kestabilan emosional yang baik serta mampu bersosialisasi ketika dewasa.

Atas dasar inilah, SLB Negeri 2 Yogyakarta menyelenggarakan kegiatan bertema Sentuhan Ibu belum lama ini. Kegiatan ini mencakup in class learning dan active learning, diskusi kelompok, dan konseling individual. Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) sebagai individu yang sangat membutuhkan program-program penggalian dan optimalisasi potensi diri, yang berlangsung dari sesi 1 – sesi 9.

Dalam sesi 1 mengarahkan orang tua untuk memahami anak secara menyeluruh. Hal-hal yang biasanya tidak menjadi perhatian, dimunculkan menjadi hal yang penting dan sangat berarti bagi orang tua dan bagi anak. Seperti kebiasaan anak, kegemaran anak, kondisi fisik, kondisi psikis, teman bermain, kemampuan intelektual, sehingga orang tua menemukan pemahaman anaknya lebih jelas, tidak tertinggal, untuk ditindaklanjuti dengan pelayanan pendidikan yang lebih tepat.

Dalam sesi ke-2 peserta diajak untuk role-play dengan skenario dan setting tertentu. Berlatih untuk menyampaikan pada anak-anak tentang kondisi yang terjadi pada mereka seperti saat menstruasi dan mimpi basah. Orang tua untuk membiasakan diri menyebut alat kelamin laki-laki dengan sebutan penis dan alat kelamin wanita dengan sebutan vagina. Selain itu, orang tua juga perlu memahami pentingnya pendidikan seksualitas dengan paradigma yang benar, bukan lagi menjadi hal yang tabu dan insting. Diharapkan orang tua membentuk anaknya dalam merawat diri, mengelola diri, dan mengembangkan dirinya secara mandiri.

Sesi ke-3 tentang Sensitifitas Emosi yaitu dengan diajak mengenali arti emosi, manfaat mengenali emosi, macam-macam emosi yang ada pada diri seseorang, penyebabnya, serta reaksi yang muncul dalam diri. Peserta diajak membayangkan pengalaman yang tidak menyenangkan dan yang menyenangkan mengenai emosi mereka dengan teknik guided imagery.

 Sesi ke -4 mengenai Katarsis Peserta dibagi menjadi tiga bagian yaitu menjadi menjadi pendengar yang baik, belajar membuka diri kepada orang lain, serta memberikan dukungan. Kemudian peserta diajak melakukan role play secara berkelompok. Selama katarsis dalam kelompok peserta merasa lega “plong” mendapat dukungan, tidak merasa sendiri, melihat bayak hal positif yang bisa disyukuri, dan yakin bahwa hidup selamanya tidak sulit atau bermasalah.

Untuk sesi ke-5 mengenai Regulasi Emosi Ibu yaitu diajarkan pentingnya menyadari dan mengelola emosi dengan cara yang lebih tepat dan sederhana dengan cara relaksasi otot, dengan membayangkan kejadian atau tempat yang menyenangkan. Untuk Sesi ke-6 mengenai Regulasi Emosi Anak Peserta melakukan role-play dan pelatihan relaksasi sederhana, mudah dilaksanakan dengan gerakan berputar, langkah maju, balik badan, miring kanan, miring kiri, dan latihan pernafasan.

Lalu sesi ke-7 tentang Komunikasi efektif, yaitu beberapa aternatif cara untuk berkomunikasi dengan anak-anak berkebutuhan khusus. Peserta diingatkan bahwa komunikasi tidak selalu dengan kata-kata atau verbal, tapi juga ada dengan bentuk non-verbal.

Untuk sesi ke-8 diajarkan Kemandirian Mengajak peserta memahami faktor-faktor untuk mengoptimalkan kemandirian anak, seperti adanya kesempatan yang diberikan oleh orang tua, pemberian reward dan konsekuensi. Peserta memilih satu aktivitas atau perilaku anak yang akan dilatih kemandiriannya. Peserta kemudian akan merancang langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk melatih perilaku tersebut.

Sesi terakhir ke-9 yaitu menyiapkan karier bagi ABK dengan cara fasilitator mengajak peserta melihat macam-macam potensi yang ada pada anak dengan mengisi self-assesment potensi. Peserta diminta untuk membuat langkah-langkah konkret dan realistis terdekat yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkan potensi anak. Bagi peserta yang belum menemukan potensi anak, peserta tetap dimotivasi dan melihat potensi-potensikecil yang dimiliki anak yang mungkin belum disadari.

Puncak kegiatan berupa pentas seni operet orang tua dan peserta didik, dengan mengambil judul Timun Emas. Pada pentas operet ini orang tua bersama anak berkesempatan secara bebas berekspresi total, melepaskan emosi dalam diri dalam nuansa seni. Orang tua bersama anak berdandan, menyanyi, menari, tertawa, berdialog, berekspresi, berlari, bergandengan tangan, memutar, jatuh, merangkul anaknya, berbaris dan gerakan yang lainnya. Anak dan orang tua saling menyatukan rasa, hatinya gembira, wajahnya ceria, selalu tersenyum, dan tidak ada beban dalam pikirannya. Anaknya pun juga sangat percaya diri di atas panggung, mengikuti seluruh koreo operet dari awal sampai akhir tanpa ada rasa lelah.

Dari serangkaian kegiatan Sentuhan Ibu memberi banyak pengetahuan dan keterampilan dalam mendampingi anak berkebutuhan khusus untuk mengembangkan potensi, emosi, dan kebugaran badannya. Orang tua dan anak terjalin ikatan jasmani dan rohani yang semakin dekat, tumbuh rasa saling menyayangi, saling memotivasi dan bersama-sama sekuat tenaga mewujudkan cita-cita menjadi warga negara yang maju dan bermartabat. (*)

Editor: Hendy Kurniawan
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved