Awan Lenticularis yang Pagi Ini Terlihat di Gunung Lawu dan Merbabu, Cantik tapi Berbahaya

Bukan sekali dua kali keindahan Gunung Lawu diselimuti oleh awan berbentuk bundar yang seolah-olah menutupi permukaannya. Hampir setiap bulan,

Tayang:
Penulis: Bunga Kartikasari | Editor: Rina Eviana
KOMPAS.COM/SUKOCO
Fenomena Gunung Lawu bertopi awan kembali terjadi pad Kamis pagi. Sejak pukul 05:00 WIB warga Magetan dan sekitarnya bisa melihat pemandangan yang indah saat awan berbentuk topi menaungu Puncak Gunugn Lawu 

Awan Lenticularis yang Pagi Ini Terlihat di Gunung Lawu dan Merbabu, Cantik tapi Berbahaya

TRIBUNJOGJA.COM - Bukan sekali dua kali keindahan Gunung Lawu diselimuti oleh awan berbentuk bundar yang seolah-olah menutupi permukaannya.

Hampir setiap bulan, awan Lenticularis itu mampu mendecakkan hati yang melihat karena keindahan panorama alam. Seperti yang pagi ini terlihat di Gunung Lawu dan Merbabu.

Dinamakan awan Lenticularis, awan ini memang cantik dengan bentuk bundarnya yang rapi.

Awan terbentuk dari hasil pergerakan angin yang menabrak dinding penghalang besar seperti pegunungan yang akhirnya menimbulkan sebuah pusaran.

Jika dilihat dari jauh, tampak bentuk awan seperti berlapis-lapis, mulai dari dua hingga lima lapis dalam satu awan.

Terdengar unik bukan? Awan terbentuk saat udara bergerak melewati pegunungan, sehingga mendapat pendinginan yang cukup untuk kondensasi.

Meski merupakan salah satu awan cantik menghiasi langit, namun awan Lenticularis ini sebenarnya cukup berbahaya bagi penerbangan.

Anda ingat dengan kasus pesawat terbang Boeing 707 di dekat Gunung Fuji, Jepang pada 1966? Saat itu, Boeing 707 yang melintas di sekitar Gunung Fuji mengalami kecelakaan, turbulensi yang disebabkan oleh awan itu.

Awan Lenticularis, Cantik tapi Berbahaya
Awan Lenticularis, Cantik tapi Berbahaya (youtube.com)

Total orang meninggal adalah 113 penumpang dan 11 kru dalam kecelakaan tersebut.

Pecahan pesawat ditemukan 16 km jauhnya dari titik yang diduga tempat kecelakaan.

Kala itu, pilot sengaja ingin mendekatkan badan pesawat ke Gunung Fuji sebagai cara untuk menghibur para penumpang.

Sayang, nahas tak dapat ditolak. Beberapa menit setelahnya, pesawat itu terpecah akibat tekanan angin yang tidak merata.

Ini termasuk kecelakaan pesawat terfatal di dunia.

Kasus ini juga menjadi kasus ketiga yang terjadi di Tokyo, Jepang dalam sebulan.

Sebelumnya, pesawat All Nippon Airways Flight 60 dan Canadian Pacific Air Lines Flight 402 telah mengalami kecelakaan.

All Nippon Airways Flight 60
All Nippon Airways Flight 60 (twitter.com/aircrashmayday)

Tidak hanya itu, awan lenticularis ini bisa memicu pembentukan turbulensi berupa badai angin kencang menuruni lereng.

Dengan keadaan itu, sebuah pesawat juga sempat kecelakaan di Colorado, Amerika Serikat pada 1999.

Keberadaan awan Lenticularis dapat menjadi penanda suatu sistem gelombang gunung yang terbentuk di atasnya dan terus menjalar serta memiliki komponen-komponen yang dapat memicu kondisi cuaca ekstrem nan berbahaya.

Meski bentuknya unik dan cukup berbahaya bagi penerbangan, fenomena awan topi ini tidak berkaitan dengan mistik. Justru, awan ini bisa dikaji secara ilmiah dan tetap bisa dihindari untuk mengurangi kecelakaan dengan korban.

( Tribunjogja.com | Bunga Kartikasari )

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved