Pendidikan

Potensi Produk Lebah Indonesia Besar

Indonesia menjadi negara kedua yang memiliki banyak aneka vegetasi, hal tersebut bisa menjadi potensi pakan yang besar bagi lebah.

Istimewa
Lustrum 2019 yang diadakan oleh Fakultas Peternakan UGM pada Rabu (25/9/2019) 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Indonesia menjadi negara kedua yang memiliki banyak aneka vegetasi, hal tersebut bisa menjadi potensi pakan yang besar bagi lebah.

Ali Agus, Dekan Fakultas Peternakan UGM menjelaskan, lebah sendiri menghasilkan produk-produk yang bermanfaat bagi manusia maupun tumbuhan. Seperti halnya madu, royal jelly, polen, lilin, dan sebagainya

"Produk lebah ini potensi yang luar biasa. Madu hasil lebah dalam kitab suci bisa digunakan sebagai obat, selama dia murni tidak dicampur dengan yang lain. Indonesia menjadi negara ke 2 setelah Brazil yang memiliki aneka vegetasi, ini potensi pakan bagi lebah," ungkapnya seusai menjadi pembicara Lustrum 2019 Fakultas Peternakan UGM pada Rabu (25/9/2019).

Akan tetapi, Agus menjelaskan jika saat ini produksi madu Indonesia masih sangat minim, hanya sekitar 10 ribu ton setahun.

Ini Lho, Perbedaan Lebah dan Tawon

Hal tersebut sangat berbeda dengan China yang menghasilkan hampir 200 ton madu pertahun.

"Mestinya kita bisa lebih karena kita punya vegetasi yang lebih luas. Bagi kita madu hutan tinggal panen, atau yang dikembangbiakkan, yang diternak juga banyak potensinya," terangnya.

Agus mengatakan, salah satu cara untuk bisa meningkatkan hasil madu yakni dengan cara pengembangbiakan atau berternak.

Supaya ternak ini bisa berkelanjutan, maka dia juga harus menanam pohon yang memiliki bunga, termasuk juga menghijaukan kembali hutan yang sudah gundul.

Dia menjelaskan, berkaca kepada negara yang sangat memperhatikan lingkungan hidupnya dengan baik, menjadikan madu sebagai produk andalan.

"Seperti New Zealand, Turki, China, Amerika Kanada, itu menjadikan madu sebagai produk andalan. Kita punya potensi besar, hanya kurang mendapat perhatian. Kita juga kurang memperhatikan keberlangsungan lingkungan, kebakaran hutan, penggunaan pestisida menyebabkan lebah teracuni dan koloni mati maupun menurun," katanya.

Peneliti Ciptakan Vaksin untuk Lebah

Agus menjelaskan, agar potensi besar tersebut dapat terwujud, pihaknya bersama dengan peneliti maupun asosiasi peternak lebah bermaksud untuk menciptakan wadah lewat himpunan.

Menurutnya, wadah ini sangat penting untuk bisa berkonsolidasi.

"Selama ini kita belum memiliki wadah, padahal kalau kita hitung banyak sekali peneliti yang sudah meneliti lebah. Selain itu jumlah petani lebah juga banyak. Disini kita bisa konsolidasi untuk bisa meningkatkan lebah dan produk yang berhubungan dengan lebah," ungkapnya. (TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: Siti Umaiyah
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved