Kisah Kreativitas Warga Wukirsari Menyulap Lokasi Kumuh Menjadi Pasar Kuliner

Berbagai makanan dan minuman dijual di Pasar Kuliner Jolontoro ini, semisal kicak, lemet, ongol-ongol, hingga gudeg.

Kisah Kreativitas Warga Wukirsari Menyulap Lokasi Kumuh Menjadi Pasar Kuliner
TRIBUN JOGJA/SULUH PRASETYA
Ilustrasi. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Orang-orang tampak antre menukarkan rupiah dengan wilah untuk jajan di Pasar Kuliner Jolontoro, Dusun Karangkulon, Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Minggu (22/9) pagi. Satu wilah setara Rp2.000.

Wilah adalah bambu dipotong kecil berbentuk persegi panjang. Pengunjung Pasar Kuliner Jolontoro wajib menukar rupiah di meja “ijol wilah” yang ada di pintu masuk pasar. Wilah merupakan alat transaksi resmi di pasar kuliner tersebut.

Berbagai makanan dan minuman dijual di Pasar Kuliner Jolontoro ini, semisal kicak, lemet, ongol-ongol, hingga gudeg. Harganya kisaran Rp2.000 sampai Rp8.000 atau setara 1-4 wilah.

"Ijol wilah sebagai sarana transaksi, beli pakai wilah, bambu yang ditipiskan. Kami memilih wilah sebagai ganti rupiah. Saat ini baru satu pecahan yakni Rp2.000. Ke depan ada pecahan lain supaya tidak terlalu banyak dan membingungkan," kata pengelola Pasar Kuliner Jolontoro, Sunhaji, kemarin.

Baca ulasan lengkapnya di Harian Pagi Tribun Jogja edisi 23 September 2019. (tribunjogja.com)

Editor: ino
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved