Yogyakarta

Beberapa Penerbangan di Bandara Adisutjipto dan YIA Dibatalkan maupun Dialihkan Akibat Kabut Asap

Penerbangan dalam keadaan kabut asap tidak boleh dipaksakan, hal tersebut jelas akan membahayakan maskapai.

Penulis: Siti Umaiyah | Editor: Gaya Lufityanti
(SHUTTERSTOCK)
Ilustrasi 

TRIBUNJOGJA.COM - Akibat adanya kabut asap (visibility below minimal) beberapa penerbangan di Bandara Adisutjipto dan Yogyakarta International Airport (YIA) terpaksa harus dibatalkan ataupun dialihkan dalam tiga hari terakhir.

Untuk di Bandara Adisutjipto sendiri, setidaknya pada Sabtu (14/9/2019) ada tiga penerbangan yang harus dibatalkan, yakni maskapai Lion Air JT 869 rute Samarinda-Yogyakarta, Lion Air JT 868 rute Yogyakarta-Samarinda, serta Express Air XN 760 dengan rute Samarinda-Yogyakarta

Pada hari Minggu (15/9/2019), penerbangan maskapai Lion Air JT 869 rute Samarinda-Yogyakarta dan Lion Air JT 868 rute Yogyakarta-Samarinda juga terpaksa harus dibatalkan.

Uniknya Sego Penggel Khas Kebumen di Watoe Gajah

Selanjutnya, pada Senin (16/9/2019), setidaknya terdapat delapan penerbangan yang harus dibatalkan maupun dialihkan ke Bandara lain yang lokasinya tidak terlalu jauh.

Di YIA sendiri, setidaknya dalam dua hari terakhir beberapa penerbangan juga terdampak kabut asap.

Pada Minggu (15/9/2019) maskapai Batik Air dengan nomor penerbangan ID 6696 rute YIA-Palangkaraya, Batik Air ID 6697 rute Palangkaraya-Yogyakarta serta Batik Air ID 6693 rute Samarinda-Yogyakarta juga harus dibatalkan.

Untuk Senin (16/9/2019) tiga maskapai yang sama, ditambah dengan Maskapai Batik Air nomor penerbangan ID 6692 rute YIA-Samarinda juga terpaksa harus dibatalkan maupun dialihkan ke Balikpapan.

General Manager PT Angkasa Pura I, Agus Pandu Purnama menerangkan penerbangan dalam keadaan kabut asap tidak boleh dipaksakan, hal tersebut jelas akan membahayakan maskapai.

Sejumlah Penerbangan dari Yogyakarta Terganggu Akibat Kabut Asap

"Tidak boleh dipaksakan kalau penerbangan, begitu visibility di bawah 1000 atau di bawah 1 kilo ya tidak akan berani. Jadi kondisinya bencana masuknya, karena pesawat tidak bisa memaksakan dengan visibility kabut," terangnya pada Tribunjogja.com, Selasa (17/9/2019).

Pandu menjelaskan, kondisi kabut beda dengan awan, yang mana untuk awan sendiri maskapai memiliki alat untuk mendeteksi keberadaan awan.

Sedangkan kabut asap, tidak bisa terdeteksi.

"Beda dengan awan. Kalau awan kita punya alatnya. Jadi pesawat punya alat pendeteksi awan aktif atau tidak, karena ada butiran airnya. Tapi kalau asap tidak bisa, kita tidak punya radar asap, begitu dia tidak bisa melihat landasan, dia tidak akan terbang," ungkapnya.

Mengenai beberapa rute yang dialihkan, Pandu menjelaskan jika hal tersebut dikarenakan perhitungan jarak antara Bandara tujuan dengan yang dialihkan tidak terlalu jauh, dan bisa ditempuh dengan jalan darat.

Kisah Keluarga Nurlela Korban Kabut Asap Pekanbaru, Ogah Pulang karena Batuk dan Pusing

Seperti halnya yang awalnya ke Samarinda, terpaksa harus dialihkan ke Balikpapan.

"Balikpapan dan Samarinda ada jalan darat, cuma beberapa jam. Jadi bisa jalan darat dan meneruskannya. Karena sama-sama Kalimantan Timur, yang dekat-dekat dialihkan ke Bandara yang memungkinkan untuk didarati," katanya.

Sementara itu, untuk Penumpang maupun Maskapai diharuskan untuk standby di Bandara sampai dengan batas waktu tertentu.

"Pesawat standby, manakala memenuhi minimum visibility bisa terbang. Penumpang juga tetap standby, ada informasi sampai batas waktu yang ditentukan. Ketika tidak dapat terbang akibat kabut asap, maka kita infokan. Ada juga delay servis dari AP maupun dari maskapai, yang terlanjur malam penerbangnya, kita akan ditunda sampai besok untuk standby," terangnya. (*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved