Sleman

Animal Friends Jogja Kecam Sirkus Lumba-lumba di Lapangan Denggung

Pertunjukan aneka satwa dan lumba-lumba tersebut telah dimulai sejak 6 September dan berlangsung hingga 13 Oktober mendatang di area Lapangan Denggung

Animal Friends Jogja Kecam Sirkus Lumba-lumba di Lapangan Denggung
TRIBUNJOGJA.COM / Santo Ari
Pertunjukan atraksi satwa oleh PT Wesut Seguni Indonesia (WSI) di Lapangan Denggung, Sleman 

TRIBUNJOGJA.COM - Animal Friends Jogja (AFJ) mengecam adanya pertunjukan satwa lumba-lumba yang dilaksanakan oleh PT Wesut Seguni Indonesia (WSI).

Pertunjukan aneka satwa dan lumba-lumba tersebut telah dimulai sejak 6 September dan berlangsung hingga 13 Oktober mendatang di area Lapangan Denggung.

Angelina Pane, Program Manager dalam konfirmasinya mengecam pelaksanaan sirkus lumba-lumba meski pihak penyelenggara mengklaim sudah mengantongi izin dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam.

Palette X Wardah: Tutorial Make Up ke Kondangan yang Antiribet


Sirkus keliling semacam ini disebutnya sudah ditiadakan di berbagai belahan dunia karena tindak kekejaman terhadap satwa yang terjadi di baliknya dan ancaman terhadap penurunan populasi lumba-lumba di alam.

"Pertunjukan lumba-lumba, dan bentuk-bentuk pengurungan lain adalah tidak dapat dibenarkan secara moral dan etika, dan secara psikologis berbahaya serta memberikan informasi yang sangat keliru tentang gambaran kapasitas intelektual mereka (lumba-lumba *red)," jelasnya pada Tribunjogja.com.

Ia mengutip Peraturan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) No. P.9/IVSET/2011 tentang Pedoman Etika dan Kesejahteraan Satwa di pasal 43, di jelaskan beberapa poin seperti peragaan satwa koleksi lembaga konservasi harus memperhatikan beberapa hal, pertama adalah penyampaian pesan-pesan konservasi dan atau pendidikan mengenai satwa tersebut.

Yang kedua dan harus diperhatikan adalah perilaku alami hewan tanpa perlakuan kasar yang menyebabkan satwa sakit atau cedera, serta dengan menjamin kesehatan, keamanan satwa dan manusia.

Bayi Lumba-lumba Mati Saat Atraksi, Diduga Kelelahan Dipaksa Bekerja

Dan ketiga adalah perlakuan yang tidak merendahkan atau meremehkan martabat satwa dalam segala segi.

"Ketiga poin-poin tersebut jelas telah diabaikan oleh PT.WSI," ujarnya.

Angelina Pane menilai, tidak adanya kandungan edukasi dalam sirkus lumba-lumba namun dipromosikan dengan target siswa sekolah adalah praktek penyesatan pendidikan lingkungan yang terencana.

Untuk itu pihaknya sudah mengirimkan surat kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman dan mengimbau untuk tidak memobilisasi guru atau siswa untuk menonton sirkus lumba-lumba.

"Kami dengan tegas menyatakan bahwa keberadaan sirkus lumba-lumba dan aneka satwa oleh PT WSI adalah murni eksploitasi yang menjadi kontroversi. Praktik kekejaman segala bentuk pentas Lumba-lumba di Indonesia sudah seharusnya dihentikan dan ditiadakan," tegasnya.(*)

Penulis: nto
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved