Pendidikan

Perguruan Tinggi Kesulitan Pasarkan Produk Prototipe Hasil Penelitian Mahasiswa

Di Indonesia jarang ada industri yang mau babat alas, sehingga banyak karya mahasiswa yang terhenti pada tahap prototipe.

Perguruan Tinggi Kesulitan Pasarkan Produk Prototipe Hasil Penelitian Mahasiswa
internet
UGM 

TRIBUNJOGJA.COM - Dekan Fakultas Teknik UGM, Nizam mengungkapkan jika sampai saat ini, Perguruan Tinggi masih kesulitan untuk bisa memasarkan produk prototipe yang dihasilkan dari hasil penelitian mahasiswa.

Menurutnya, di Indonesia jarang ada industri yang mau babat alas, sehingga banyak karya mahasiswa yang terhenti pada tahap prototipe.

"Tugas Perguruan Tinggi memang sebatas pada riset dan pengembangan, kalau riset dan pengembangan itu sudah pada sampai pada konsep terbukti, artinya bisa dibuat. Hanya di Indonesia ini industri jarang yang mau babat alas, memulai sesuatu dari riset," terangnya.

Nizam mengatakan, kebanyakan Industri lebih nyaman membeli produk yang sudah jadi, dan pasarnya sudah terbentuk.

Palette X Wardah: Tutorial Make Up ke Kondangan yang Antiribet

Menurutnya kendala yang dihadapi oleh produk prototipe mahasiswa adalah secara ekonomi masih kecil dan belum mampu bersaing dengan pasar yang memiliki produksi yang sudah jutaan.

Saat ini, PR terbesar ketika ingin mencapai kedaulatan teknologi, maka Industri harus mulai melirik produk milik mahasiswa.

"Saatnya industri untuk masuk. Kita sangat berharap industri di Indonesia mulai bersemangat merah putih, membangun teknologi yang basisnya produk anak bangsa. Memang tidak mudah tentu saja dari sisi harga," ungkapnya.

Nizar mengatakan, pihaknya masih berupaya untuk menggandeng industri untuk bisa menggunakan produk-produk mahasiswa.

Gugus Tugas Papua UGM Kembali Kirim 186 Guru ke Papua

Dia juga berharap peran dari Pemerintah untuk bisa mendorong Industri memakai teknologi yang dibuat oleh anak bangsa.

"Kita berusaha menggandeng mitra dan sejauh ini belum berhasil, tapi terus kita berupaya dan berusaha. Disini kita harapkan peran dari pemerintah yang mendorong industri untuk memakai teknologi anak bangsa. Tanpa itu ya tidak mungkin kita akan bisa untuk meraih kedaulatan teknologi, kedaulatan bangsa," terangnya.

Andi Suryandi, Kasi Evaluasi Sistem Riset dan Pengembangan, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kemenristekdikti dalam Workshop Uji Kasus Perhitungan Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) sebelumnya mengungkapkan, saat ini banyak penelitian yang penerapannya belum bisa sampai ke masyarakat.

UGM Menggelar Konferensi Internasional BioMIC

Hal tersebut disebabkan hasil riset yang belum bisa didesiminisasi secara langsung maupun informasi hasil riset tersebut belum terpublikasikan dengan baik.

"Capaian levelnya ada 1-9. Kalau di kami baru 1-6 atau 1-7, dimana dia masih dalam prototipe. Tentunya seharusnya yang harus kita giring adalah riset dasar sampai bisa diterapkan di industri atau masyarakat," katanya

Menurutnya, yang perlu dilakukan saat ini yakni Peneliti harus bisa menggandeng industri, ataupun ketika membuat penelitian, Peneliti sebaiknya menggandeng industri untuk bisa terlibat di dalamnya.

Yang mana ketika pruduk tersebut sudah jadi, bisa sesuai dengan yang diperlukan oleh industri. (*)

Penulis: Siti Umaiyah
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved